24 Juni 2011

KUDJANG (Haris Sukanda Natasasmita)

Kemashuran keris Pajajaran, pamor Pajajaran atau “tangguh” Pajajaran, dapatlah kiranya untuk sementara kita ketahui dari empat sumber, walaupun mungkin tidak begitu sempurna
Â
• Yang pertama adalah relief candi yang menunjukkan berbagai bukti peralatan atau senjata.
• Yang kedua adalah peninggalan-peninggalan lama baik yang tersimpan di masyarakat, maupun di berbagai Museum.
• Sumber ketiga berupa Naskah Lama yang menyebut jenis dan namanya.
• Sumber keempat berupa berbagai catatan dan penelitian tentang hal tersebut.

Senjata tak dapat dipisahkan dari para Empu, dan pandai-pandai termashur yang namanya masih terus dikenang sampai sekarang. Beberapa Empu sakti disebut dalam berbagai Naskah
• Bagawan Empu Ramadi (Serat Manik Maya, I:45-47)
• Empu Brama Kedali id.
• Empu Somkahadi id.
Â
Empu Ramadi mempunyai “tungku pande, tempat menempa di angkasa”. Empu/pandai tersebut dikatakan membuat 15 senjata surga (id.I:46), yaitu:
Â
1. cakra          6. ale 11. trisula
Â
Dikisahkan bahwa di surga terjadi perang tanding dengan mempergunakan keris di antara Empu-Empu tersebut (id. I:52-53)
Sebutan berakhir dalam Serat Manik Maya adalah kudi yang dipakai Kyahi Tuwa untuk melawan binatang buas (babi hutan dan kera). Senjata kudi dikatakan sangat berguna dan efisien. (id. VI:23-25)
Sumber lain (Wirasoekadga, t.t:3,7-9) menyebut limabelas jenis (type) tangguh. Tangguh Pajajaran adalah yang tertua, dan jauh lebih tua daripada tangguh Majapahit. Dikemukakan oleh sumber yang sama pula bahwa pada tangguh-tangguh Pajajaran terdapat tujuh Empu, yaitu (1) Empu Ki Keleng, (2) Empu Ki Kuwung, (3) Empu Ki Loning, (4) Empu Ki Angga, (5) Empu ing Bagelen, (6) Empu Ki Sikir Dusun Tapan, dan (7) Empu Siyung Wanara, nalika taksih jumeneng Bupati Arya Banyakwide.
Â
Dari tujuh Empu sakti itu, hanya dua Empu kita ketahui hasil tempaan mereka :
Empu Keleng membuat keris Kyai Kopek (keris lurus, dapur Tilam Upih pamor Tambal) dari besi seperti batutulis.
Empu Kyai Manca hanya disebut dalam kitab, tetapi tidak diketahui nama keris buatannya.
Â
Dalam Cariosan Prabu Silihwangi kita memperoleh dua kali sebutan tentang keris, yang kedua-duanya dikatakan dipakai oleh Silihwangi yaitu
IX:9 sebelum berangkat dari Sindangkasih ke Singapura, keris yang dipakai oleh Silihwangi disebut dhuhung ginanja pitu; sedangkan
XXI:47 keris kepunyaan Silihwangi yang diambil Ambetkasih untuk dipakai bunuh diri bernama Kebo.
Â
Dalam pupuh ke VII Naskah Sang Nata Agung, (KBN no 545.Inv.EFEO-Bdg. no 2032, sebelum Prabu Silihwangi berangkat menuju ke Prabu Singguru untuk berunding, ia bersenjata keris pusaka karuhun Prabu Ciung Wanara (buatan warisan) yang diberi nama Kebo Teki. Prabu Singguru kemudian tewas ditusuk dengan keris sakti itu, yang akibatnya seluruh bala-tentara Tanjung Singguru menyerah kepada Prabu Silihwangi.
Dalam beberapa naskah-naskah Sunda dan Jawa ditemui pula senjata-senjata yang digunakan rakyat Pajajaran atau keturunan Raja-Raja Pajajaran.
Â
1 Keris Sakti
Dalam Naskah Wawacan Sumpena Kanagan (KBN no 221,IX:.25) disebut Keris Tunggal Naga kepunyaan Raden Supena pemberian kakeknya yaitu Embah Gurit Sagara. (Dalam sebuah Naskah lain yang berjudul sama (KBN no 361) keris itu bernama Panunggal Naga. Sedangkan dalam Naskah yang sama (KBN no 361 - keris Parung Kacawulung adalah keris kepunyaan Raden Kanagan pemberian kakeknya yaitu Raja Gurit Sagara).
Dalam naskah Wawacan Jaka Paringga (KBN no 439,III:8) - keris Setan Kuber kepunyaan raja Jaka Paringga (KBN 439,III:8).
Dalam naskah Babad Cerbon (Ms H.S. no 31,XVIII:31) disebut - keris Kalamungeng kepunyaan raden Sahid yang terbentuk dari penjelmaan Babakaur yang keluar dari rarangan Nyi Kidul Ratu Negara Kandiri. (Ms H.S. 31.XVIII:31).
Dalam naskah Babad Gebang (lalakon Jakatayu, KBN no 446 - keris Candrakirana keris kepunyaan Arya Gobang dipakai berperang tanding melawan raden Heulang Julun.
Dalam Wawacan Suryaningrat (tr.1): empat buah keris disebut: Keris Bantal Naga kepunyaan Ningrum Kusumah pemberian Seh Rukmin XIV:14-15. Keris Rohganda kepunyaan Ratu Jamawati yang digunakan sewaktu berperang tanding melawan Raden Suryaningrat : XLIII:20. Keris Candra kepunyaan Buriksana Yang digunakan sewaktu berperang tanding melawan Raden Darma-tmaja: XLIX:12. Keris Kilat Dewangga kepunyaan Suryakanta pemberian pendeta Rambut Geni.
Dalam naskah Wawacan Suryakanta, pupuh L:37 Keris Parsi Wanda kepunyaan raja Jumena ketika berperang tanding melawan Jaya Komara Dinangrit.
Dalam naskah wawacan Rangga Wulung, empat keris sakti disebut: Keris Bantal Naga kepunyaan raja Rangga Wulung, raja negara Buldansah (Wawacan Rangga Wulung). Keris Gagak Sakti kepunyaan Kala Rujita pemberian kakeknya yaitu Pendeta Yusuf. Keris Naga Sona kepunyaan Kala Rujita pemberian ibunya yaitu Dewi Puspitasari. Keris Rangga Cicing, adalah kepunyaan raja Made Pati ayahnya Kumudaningrum, raja dari negara Karandan. (KBN no 223).
Dalam Naskah Wawacan Abdullah terdapat dua sebutan keris: Keris Baraja Kusumah kepunyaan raden Baraja Sutia yang digunakan untuk membunuh musuhnya yaitu Ganjapuri (KBN no 427:LII:17). Keris Sang Gagak kepunyaan Raden Ahmad pemberian pendeta Seh Jagung (KBN.427.V:8).
Dalam wawacan Ahmad Muhammad disebut: Keris Si Gagak kepunyaan raja Gondani dan kepunyaan Dipati Tarung. (KBN. 400 Ph.).
Akhirnya dalam Naskah Wawacan Danumaya disebut Keris Gagak Karancang kepunyaan Raden Danumaya. (tr. 52.IX:12).
Â
Akhirnya berbagai jenis senjata kita ketahui dalam Ms: Dari peti sakti yang dibawa Ki Barid ke luar perkakas-perkakas seperti patik, dekol, ragaji, bakrik, arit, pacul, pelor emas, pelor waja, bandring, panah, gada, pedang tumbak, rimbas, baliung, congkrang, gobang dan kored (Jaka Paringga KBN.43 Di sini saya membatasi diri dengan sebutan nama pedang, golok, gada, badi dan cemeti.
Beberapa pedang sakti disebut, terutama dalam Wawacan (KBN.99)
• Pedang Mur’at, kepunyaan raden Panca Tandran yang berasal dari ekornya yang dicipta menjadi pedang oleh Dowa Brahma.
• Pedang emas, senjata kepunyaan Dewi Lasmaya pemberian orang tuanya yaitu Bagawan Mudali, Raja Jin yang memiliki tujuh gunung logam dan samudra.
• Pedang Tamsir, kepunyaan Panji Masang yang berasal dari ekornya karena dicipta menjadi pedang oleh Dewa Brahma.
• Pedang Dulpakari, kepunyaan raden Sayid Saman dalam Naskah Wawacan Bantal Jemur. ( KN.489).
Â
Â
2 Golok Sakti
• Golok bercabang, kepunyaan Somadullah pemberian Sanghiyang Neko dari Gunung Singkup yang dapat terbang dan bekerja sendiri. (Tr.HS.31 Babad Cirebon)
• Golok Sunda, yang disebut untuk mengajar orang Jawa (dalam Sejarah Melayu).
Â
3 Gada Sakti
• Gada besi Ratu Ponggang yang sangat sakti. (CPS.XVIII:25)
• Gada Kepet Duhung kepunyaan Arya Gambar Kanoman. (KBN.223. Wawacan Rangga Wulung).
• Gada Kepeng Malela kepunyaan raja Gondana. (KBN.400 Ph. Wawacan Ahmad Muhammad).
• Gada Sakti kepunyaan Ki Barid yang dapat terbang sendiri dan bekerja sendiri. (KN.438. Babad Bojonagara).
• Gada Baja kepunyaan Sunan Gordah raja dari negara Bojonagara. (KN. 438).
Â
4 Tameng Sakti
• Tameng Ubung Malela, kepunyaan raja Umbaran dari negara Buldansah, dan
• Tameng Kepeng Malela adalah tameng sakti kepunyaan Arya Buldansah raja Gambar Kanoman. (dalam Wawacan Rangga Wulung KBN.223).
Â
5 Badik Sakti
Disebut dalam Wawacan Suryaningrat.
Badik Gagak Pertula, kepunyaan raden Muhammad pemberian Seh Jagung.
Â
6 Cemeti Sakti
Cemeti besi putih, kepunyaan raden Sadat, patih negara Pulau Majeti. (dalam KBN.400. Wawacan Achmad Muhamad).
Â
Yang patut dicatat adalah bahwa dari sekian banyak senjata yang disebut dalam naskah, belum terdapat sebutan tentang salah satu senjata yang kemudian dijadikan lambang dan kebanggaan masyarakat Sunda dewasa ini yaitu kujang.
Â
Antara senjata Kujang dan senjata-senjata tajam lainnya.
Dari berbagai peninggalan tertulis, kiranya dapat kita ketahui alam pikiran masyarakat dan lingkungan hidupnya. Carita Purnawidjaya (Kropak 416) dengan ajaran Kunjarakarna dan Sanghiyang Siksa Kanda ng Karesian (Kropak no 630) sebagai contoh:
Intisari Carita Purnawijaya adalah menceritakan tentang betapa perilaku seseorang sepanjang umurnya di dunia ini, tidak akan terlepas dari perhitungan-perhitungan dan timbangan. Bahwa kehidupan di dunia ini bagaikan tanaman pesawahan yang hasilnya baik atau buruk, secara pasti akan dipanen pada kehidupan di alam lain. Bahwa atma-nya (rochnya) akan hidup abadi dan akan menang-gung semua akibatnya. Itulah intisari ajaran HUKUM DHARMA dari Buddha Wairocana, kiranya ahli pikir atau ahli agama. Nenek moyang Sunda telah memadukan antara inti-inti ajaran dengan para tokoh agamanya yaitu antara Yamadipati (Dewa neraka dalam Hindu) dengan Budha Wairocana. Contoh ini adalah sesuatu yang unik dan sangat mandiri sehingga cukup menyulitkan penelitian para sarjana Belanda, hanya karena sangat khas di Sunda.
Begitu pula halnya tentang pokok-pokok dasar ajaran keagamaan yang diuraikan dalam Sang Hiyang Siksa Kanda ng karesian (TBG.LVI:438), yang terangkum lengkap dalam 10 dasar sila kebaktian (dasa prebakti).
Â
Anak bakti di bapa,
Ewe bakti di laki,
hulun bakti di pantjadaan
sisa bakti di guru
orang tani bakti di dewata
wadon bakti di mantri
mantri bakti di mangkubumi
mangkubumi bakti di ratu
ratu bakti di dewata
dewata bakti di hiyang.
Â
Satu hal yang sangat menonjol dan khas, adalah pergeseran konsep KEKUASAAN dari para dewa (dewata) yang asalnya dari unsur tertinggi telah turun sedemikian rupa hampir sederajat barangkali dengan manusia biasa sehingga mereka harus berbakti pula kepada HIYANG. HIYANG dengan demikian digambarkan sebagai Tuhan Yang Maha Esa, Penguasa jagat raya (mayapada dan marcapada). HIYANG digambarkan sebagai sesuatu yang abadi, yang ghaib dan lambang kesucian. Kewajiban untuk bersembah/berbakti kepada HIYANG itu sampai sekarang istilahnya masih tetap berlaku yaitu sembahyang. Pada jaman Pajajaran kata-kata HIYANG telah demikian melekat erat di kalangan masyarakatnya. Dari generasi ke generasi terus berlangsung beratus tahun. Jejak-jejak itu diabadikan dalam nama-nama tokoh raja sebagai personifikasi HIYANG di dunia (Lingga Hiyang; Sanghiyang Susuk Tunggal dll.). Dari naskah Cariosan Prabu Silihwangi serta naskah-naskah lainnyal nampak pula pergeseran nama HIYANG ini kepada beberapa tempat/daerah yang dianggap keramat. Nama-nama tempat itu sampai kini masih ada.  Umpama-nya: Danau Sanghiyang di TALAGA, Sanghiyang Keukeum-bingan (Cariosan Prabu Silihwangi), Sanghiyang Roronjatan, Sanghiyang Tikoro dan lain-lain.
Di atas telah disinggung tentang adanya peranan bahasa dan istilah untuk mengukirnya dalam bentuk nama-nama atas segala sesuatu yang berhubungan dengan sosio-budayanya. Maka secara fillogis nama-nama yang terukir dalam setiap jenis benda, kiranya akan memberi petunjuk kepada kenyaan benda-benda yang sebenarnya. Di sini saya akan mengemukakan tiga kata ungkapan dalam bahasa Sunda yang kini masih dipahami pengertiannya akan tetapi belum tentu mereka itu menyadari asal-usulnya.
Â
ke 1. Â Â nyisikudi yang diartikan sebagai mengganggu.
ke 2.   kaduhung       yang diartikan sebagai menyesal.
ke 3.   kabadi yang diartikan sebagai terkena sumpah atau terkena penyakit.
Â
Nampak sekali ketiga pengertian di atas menuju ke arah yang merugikan dan semuanya bersifat negatif. Ketiga ungkapan di atas sebenarnya menunjukkan kepada akar kata-kata kudi, duhung, dan badi, yang kesemuanya menunjukkan sebagai bukti senjata tajam.
Â
Pertama
Pengertian nyisikudi ialah apabila kita meraba-raba dengan telapak dan ujung jari di sekitar kudi, apabila kurang hati-hati bisa berakibat luka-luka tergores pinggiran tajam kudi. Bentuk kudi adalah senjata tajam, di samping berfungsi menetak/membelah ujungnya berbentuk kaitan yang tajam.
Kedua
Kaduhung secara harfiah artinya tertusuk atau terkena duhung. Ka adalah prefix yang mengkata-kerja-kan kata benda duhung, tetapi disengaja (seperti prefix ter dalam bahasa Indonesia/Duhung adalah kata lain dalam bahasa Sunda untuk senjata jenis keris.
Ketiga
Kabadi secara harfiah diartikan terkena tusukan badi.
Badi adalah senjata tajam juga, mendekati kepada pisau sekarang, hanya bentuknya lebih ramping.
Â
Kembali kepada soal kudi seperti yang saya sebutkan di atas, bahwa senjata tajam itu mempunyai bentuk yang menyerupai keris, parang dengan tonjolan pada bagian pangkalnya dan bentuk lengkungan ke bagian ujungnya. Bentuk yang seperti ini nampaknya telah tersebar luas di sepanjang pulau Jawa dan Madura. Kalau kita melihat salah satu relief di candi Sukuh (abad ke XV) pada bagian yang disebut Watugede nampak seseorang sedang memegang senjata yang sangat mirip dengan gambaran KUDI Dr. W.F. Stutterheim (Oudheidkundig Verslag 1937, p.30-31. Gambar 45), menginterpretasikan seorang pakawan (penjaga) sedang memegang senjata tajam kudi. Pada bagian lain dari Candi Sukuh, tergambar pula dalam bentuk relief (dari kanan ke kiri). Panday: sepasang ububan yang sedang dipergunakan seseorang; Ganesha dalam posisi berdiri dengan satu kaki aneka macam senjata, hasil karya panday tersebut, berupa kudi, mata tombak, keris, petel, pacul, kapak, gunting, (Gid voor de oudheden van sukuh en ceta - Dr.W.F. Stutterheim, 1930, p.26).
Empu Anjani di Banten termashur sebagai pembuat KUDI dan KUDYANG di daerah Banten yang bertype khas Pajajaran, serta dianggap suci atau pusaka (Sejarah Banten, Tbg. Roesjan, 1954).
Pigeaud (1948) mendefinisikan Kudi sebagai berikut: Koedjang gewestelijk, een soort van kapmes.
Snouck Hurgronje, Hazeu, Kern, dan G.P. Rouffaer (TBG.LI:471-476) th.1909 Melaporkan penelitiannya tentang kudi sebagai senjata tajam yang kuna di Madura dan di Jawa (Purwokerto-Banyumas), nampaknya mereka telah cenderung mencampur-adukan atau juga barangkali mereka menganggap begitu saja bahwa kudi adalah kujang sebagaimana yang ada di Jawa Barat.Â
Â
Sebenarnya pengamatan atau observasi mereka itu sudah sangat mendekati kebenaran dan sangat kritis. Bahwasanya kudi menjadi hilang dan berkembang bentuk menjadi bentuk kudi yang baru, sedangkan kujang menjadi senjata upacara dan lambang pusaka bagi para raja. Senjata bentuk baru itu disebut Kudi Hyang, dalam arti kudi yang “suci” (sakral) khusus untuk upacara/pegangan pribadi.
Demikianlah saya meyakini sebagai salahsatu kesimpulan penelitian saya yang sebenarnya baru sebahagian saja dapat dikemukakan di sini. Ternyata justru kudilah yang sebenarnya merupakan sebagai senjata atau perabot untuk alat pertanian, sedangkan yang Kudi Hyang atau Kudi Hiyan atau Kudyang tidak pernah dipergunakan sembarangan terkecuali semata-mata untuk menjaga diri. Alat-alat pertanian tak pernah berpamor. Alat pe-peranganlah yang berpamor.
Jadi sumber yang menyebutkan senjata sakti cukup banyak. Akan tetapi sumber yang menceritarakan bagaimana senjata tersebut dibuat, cara berpanday, macam besi apa, ilmu apa dan sebagainya, sangat minim. Logam yang sering disebut adalah emas, perak, besi, baja, timah (Sukanda-Tessier: 1984:4). Namun seolah-olah semua nama-nama itu bagi saya, hanya masih berupa nama saja, tanpa kelengkapan atau kelestarian dalam tradisinya serta adanya panday yang masih mampu mengerjakan senjata berpamor, yang sakti.
Namun demikian rasa penasaran saya, tetap bergelora dan terus melanjutkan pelacakan. Bertanya dan bertanya, melihat-lihat senjata di mana saja.
Demikianlah akhirnya pada bulan November 1976, datanglah kesempatan itu dan mengenal seorang panday yang masih mampu membuat pamor, kemudian saya mengadakan survey khusus di tempat selama berkali-kali, yaitu di Cibatu, Sukabumi Selatan. Pandaynya bernama Haji Saripuddin (± 72 th.). Dia mendapat ilmu dari keluarganya secara turun tumurun dari daerah Kuningan. Namun sayang bahwa penelitian yang masih berjalan. Haji Ridwan yang mengkhususkan pada merahan/nyarungan/maranggi. Umur Haji Saripuddin sekitar 63 tahun. Ia belajar dan aki Momoh, Embah Empang, terus ke pamannya: (1) Haji Sudjai, (2) Mang Mar’ad, dan (3) Mang Enal
Adapun penelitian saya ini tentang berbagai segi ilmunya masih sedang berjalan.

DESKRIPSI KUJANG :

Dalam Wacana dan Khasanah Kebudayaan Nusantara, Kujang diakui sebagai senjata tradisional masyarakat Masyarakat Jawa Barat (Sunda) dan Kujang dikenal sebagai senjata yang memiliki nilai sakral serta mempunyai kekuatan magis. Beberapa peneliti menyatakan bahwa istilah Kujang berasal dari kata Kudihyang dengan akar kata Kudi dan Hyang.

Kudi diambil dari bahasa Sunda Kuno yang artinya senjata yang mempunyai kekuatan gaib sakti, sebagai jimat, sebagai penolak bala, misalnya untuk menghalau musuh atau menghindari bahaya/penyakit. Senjata ini juga disimpan sebagai pusaka, yang digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya dengan meletakkannya di dalam sebuah peti atau tempat tertentu di dalam rumah atau dengan meletakkannya di atas tempat tidur (Hazeu, 1904 : 405-406)

Sedangkan Hyang dapat disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa mitologi, namun bagi masyarakat Sunda Hyang mempunyai arti dan kedudukan di atas Dewa, hal ini tercermin di dalam ajaran “Dasa Prebakti” yang tercermin dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian disebutkan “Dewa bakti di Hyang”.

Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). Sebagai lambang atau simbol dengan niali-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi serta pemerintahan.

Disamping itu, Kujang pun dipakai pula sebagai sebuah nama dari berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya dipakai pula oleh Pemda Propinsi Jawa Barat.
Di masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah diantaranya di daerah Rancah, Ciamis. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.

Dengan perkembangan kemajuan, teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat Sunda, Kujang pun mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral. Wujud baru kujang tersebut seperti yang kita kenal saat ini diperkirakan lahir antara abad 9 sampai abad 12.

Karakteristik sebuah kujang memiliki sisi tajaman dan nama bagian, antara lain : papatuk/congo (ujung kujang yang menyerupai panah), eluk/silih (lekukan pada bagian punggung), tadah (lengkungan menonjol pada bagian perut) dan mata (lubang kecil yang ditutupi logam emas dan perak). Selain bentuk karakteristik bahan kujang sangat unik cenderung tipis, bahannya bersifat kering, berpori dan banyak mengandung unsur logam alam.

Dalam Pantun Bogor sebagaimana dituturkan oleh Anis Djatisunda (996-2000), kujang memiliki beragam fungsi dan bentuk.

Berdasarkan fungsi, kujang terbagi empat antara lain :
Kujang Pusaka (lambang keagungan dan pelindungan keselamatan),
Kujang Pakarang (untuk berperang),
Kujang Pangarak (sebagai alat upacara) dan
Kujang Pamangkas (sebagai alat berladang).

Sedangkan berdasarkan bentuk bilah ada yang disebut
Kujang Jago (menyerupai bentuk ayam jantan),
Kujang Ciung (menyerupai burung ciung),
Kujang Kuntul (menyerupai burung kuntul/bango),
Kujang Badak (menyerupai badak),
Kujang Naga (menyerupai binatang mitologi naga) dan
Kujang Bangkong (menyerupai katak).

Disamping itu terdapat pula tipologi bilah kujang berbentuk wayang kulit dengan tokoh wanita sebagai simbol kesuburan.

Kujang Berlanjut
Deskripsi: Kujang berlanjut adalah kujang yang jika dilihat dari bentuknya menyerupai bentuk pra kujang dan fungsinya sebagai alat untuk keperluan praktis (terutama sebagai alat pertanian). Kujang berlanjut diperkirakan berkembang setelah abad ke-12. Berdasarkan bahan yang dipergunakannya, umumnya telah berusia 50 tahun atau lebih. Adapun lubang yang terdapat pada bilahnya berfungsi sebagai lubang untuk digantungkan pada sebuah paku atau pasak di dinding ketika tidak digunakan.

Kujang Naga
Deskripsi: Bentuknya menyerupai naga yang melambangkan dunia atas. Dalam mitologi Hindu, Naga merupakan perpaduan antara binatang burung, ular dan rusa. Karakteristik dari kujang Naga memiliki waruga besar dengan siih yang meyebar di bagian tonggong. Menurut berita lisan pantun Bogor, kujang Naga digunakan oleh para Kanduru dan para Jaro.

Nambihan Saur Sepuh...
Menurut orang tua ada yang memberikan falsafah yang sangat luhur terhadap Kujang sebagai; "Ku-Jang-ji rek neruskeun padamelan sepuh karuhun urang" Janji untuk meneruskan perjuangan sepuh karuhun urang/ nenek moyang yaitu menegakan cara-ciri manusa dan cara ciri bangsa. Apa itu? Cara-ciri Manusia ada 5: Welas Asih (Cinta Kasih), Tatakrama (Etika Berprilaku), Undak Usuk (Etika Berbahasa), Budi Daya Budi Basa, Wiwaha Yuda Na Raga ("Ngaji Badan". Cara-ciri Bangsa ada 5: Rupa, Basa, Adat, Aksara, Kebudayaan

Sebetulnya masih banyak falsafah yang tersirat dari Kujang yang bukan sekedar senjata untuk menaklukan musuh pada saat perang ataupun hanya sekedar digunakan sebagai alat bantu lainnya. Kujang bisa juga dijadikan sebagai senjata dalam setiap pribadi manusia untuk memerangi prilaku-prilaku diluar "rel" kemanusaiaan. Memang sungguh "gaib sakti" (falsafah) Kujang. Kenapa setiap kujang mempunyai jumlah bolong/ mata yang berbeda-beda??? Umumnya ada yang 3, 5 (kombinasi 2 dn 3), 9. Itu pun mengandung nilai falsafah yang sangat tinggi dengan istilah "Madep/Ngiblat ka Ratu Raja 3-2-4-5-Lilima-6". Itu semua kaya akan makna yang dapat membuka mata kita tentang siapa aku? dari mana asalnya aku? untuk apa aku hidup? dan menuju kemana aku?

Kujang Pamor
Kujang adalah sebuah bentuk senjata yang unik dan dikenal di daerah Jawa Barat. Kujang mulai dibuat sekitar abad ke-8 atau ke-9, terbuat dari bahan besi, baja, dan baja pamor, panjangnya sekitar 20 cm sampai 25 cm dan beratnya sekitar 300 gram.

semoga berguna...

19 Juni 2011

KERIS ATAU TOMBAK ?

 Sejumlah orang meyakini, keris Kyai Condong Campur tak sekedar mitos. Pusaka warisan zaman Majapahit itu dipercaya memiliki kekuatan  yang mampu mempersatukan setiap elemen bangsa dan negara. Benarkah demikian?
 Seringkali perpecahan diawali dari hal-hal kecil yang tak disadari atau dibiarkan karena dianggap remeh. Misalnya, menurunnya rasa kepedulian terhadap sesama dan rasa setia-kawan serta anarkisme dalam menghadapi perbedaan. Anarkisme di kalangan supporter sepak bola menjadi contoh konkrit. Bila ini terus terjadi, perpecahan menjadi bom waktu. Sejarah silam bangsa ini telah mengajarkan hal itu, sebagaimana tersirat dalam mitos keris Kyai Condong Campur. Banyak versi telah mengungkap perihal keris Kyai Condong Campur. Pusaka Majapahit ini diartikan sebagai perlambang keinginan akan sebuah persatuan. Seperti diketahui, zaman Majapahit terakhir, abad 14, peradaban Hindhu di tanah Jawa mulai bergeser ke peradaban baru, Islam. Kadipaten Demak Bintoro, ketika itu berkembang pesat dan akhirnya menjadi kerajaan Islam terbesar di Jawa Tengah.
 Berdirinya Kerajan Demak Bintoro ditandai candra sengakala Geni Mati Siniraman Janma, yang berarti tahun 1403 Saka atau 1478 Masehi (DR Purwadi, MHum, 34: 2005). Meski peperangan antara Demak (Islam) melawan Majapahit (Hindhu) termaktub dalam banyak versi babad dan kisah tutur, namun secara historis banyak ahli sejarah menolak kebenarannya. Sebab, tak ditemukan catatan sejarah atau prasasti yang membuktikan hal itu. Ini menunjukkan, betapa silang sengkarutnya situasi zaman itu, sehingga runtuhnya Majapahit tak bisa dipastikan penyebabnya.
 Candra sengakala berbunyi: Sirna Ilang Kertaning Bumi, yang berarti tahun 1400 Saka, bahkan dinilai bukan berarti runtuhnya Majapahit, melainkan prasasti gugurnya Brawijaya V dalam pemberontakan Girindrawardhana. Ada pun peralihan pernatan zaman dari Majapahit ke Demak Bintoro, menurut catatan sejarah China, baru terjadi pada saat kepemimpinan Adipati Unus (1518-1521 Masehi).
 Munculnya Keris-keris Sakti
Kebenaran tentang pernah adanya perang Demak-Majapahit, hingga kini masih menjadi pro-kontra. Sementara dalam sejumlah babad seputar zaman itu, muncul kisah-kisah keris sakti. Antara lain, keris Kyai Condong Campur, keris Kyai Sengkelat, keris Sabuk Inten dan keris Kyai Crubuk. Ketiga keris ini sangat kawentar dalam khasanah budaya-tosan aji Nusantara, khususnya di Jawa.
 Tak hanya daya kesaktian keris-keris itu yang melegenda, namun juga makna filosofi di baliknya. Makna atau nilai filosofi ini dipandang bukan sekedar hasil kajian budaya, namun juga sebagai nilai spiritual keris yang semakin mengukuhkan keampuhan tuah atau berkahnya. Tak pelak, keris-keris itu banyak diburu oleh para calon pemimpin bangsa. Terutama, keris Kyai Condong Campur.
 Keris ampuh itu muncul ketika Majapahit mulai didera konflik yang bersumber dari adanya perbedaan. Saat itu, dua golongan yang memiliki perbedaan pandangan adalah golongan pejabat, pedagang atau pemilik modal. Golongan kedua adalah masyarakat bawah yang kecewa karena kondisi, seperti keterpurukan nasib dan tekanan hidup. Keadaan ini membuat perbedaan kasta yang bersumber dari ajaran Hindhu, berubah menjadi sesuatu yang juga ditentang.
 Dalam keadaan seperti itu, muncullah keris berdapur Sabuk Inten, yang dipandang mewakili golongan para pejabat atau pedagang. Sabuk berarti ikat pinggang, dan Inten berarti intan atau permata. Sedangkan keris berdapur Sengkelat dipandang mewakili golongan masyarakat bawah yang kecewa terhadap situasi. Sengkelat berasal dari kata sengkel atine atau dongkol-kecewa berat.
 Di antara kedua golongan itu, muncul sebuah keinginan untuk menyatukan keduanya, yang terwakili oleh keris Kyai Condong Campur. Condong artinya miring, mengarah pada suatu titik yang juga berarti keberpihakan atau keinginan. Campur berarti menjadi satu atau berpadu. Dengan demikian, Condong Campur adalah keinginan untuk menyatukan suatu keadaan atau golongan tertentu. Konon, keris Kyai Condong Campur ini dibuat beramai-ramai oleh seratus orang Mpu. Keris ini menjadi pusaka ampuh Majapahit. Tapi anehnya, keris ini disebut berwatak jahat.
 Dalam khasanah tosan aji, terdapat kisah yang menceritakan pertarungan antara keris-keris itu. Sabuk Inten yang merasa terancam eksistensinya, memerangi Condong Campur. Dalam pertikaian itu, Sabuk Inten kalah. Sedangkan keris Sengkelat yang juga merasa sangat tertekan oleh kondisi, ikut memerangi Condong Campur dan akhirnya menang. Keris Kyai Condong Campur yang kalah perang, melesat ke angkasa menjadi Lintang Kemukus dan mengancam akan kembali ke bumi setiap 500 tahun untuk membuat ontran-ontran.
 Pertarungan keris-keris sakti itu dikisahkan dalam Babad Tanah Jawa. Dalam babad itu, keris Kyai Condong Campur dikatakan sebagai keris jahat penebar penyakit di Majapahit. Karena itu, lintang kemukus menjadi mitos tersendiri, yang kemunculannya dipercaya sebagai pertanda datangnya pagebluk atau wabah penyakit.
 Pusaka Tombak Korowelang
Kekalahan keris Kyai Condong Campur yang dikisahkan dalam sejumlah babad, seakan justru mematahkan mitos tentang keris tersebut yang bisa menyatukan bangsa. Apa lagi, keris Kyai Condong Campur dimitoskan sebagai penebar wabah penyakit, yang ketika itu juga nyaris menewaskan Dewi Dwarawati, permaisuri Brawijaya V. Beruntung sekali ketika itu, keris Kyai Sengkelat milik Mpu Supa Mandrangi mampu mengalahkan keris Kyai Condong Campur dan melenyapkan pagebluk yang melanda seantero Majapahit.
 Lantas, pusaka apakah sebenarnya yang bisa memberikan kekuatan bagi pemiliknya, sehingga mampu menyatukan berbagai elemen bangsa dan negara? Pusaka Tombak Korowelang, Tombak Tunggul Nogo dan Songsong Tunggul Nogo serta Senjata Cakra.
 Tombak Korowelang tercatat dalam kisah pewayangan yang menyebutnya sebagai kepunyaan Pandu Dewanata. Tombak itu juga pernah dimiliki oleh Brawijaya V, dan pernah pula dimiliki oleh mantan presiden pertama RI, Ir Soekarno. Tapi sejak Bung Karno lengser, tombak itu lenyap. Pusaka Majapahit itulah yang bisa menyatukan bangsa ini dan mengakhiri setiap ontran-ontran serta bencana alam yang selama ini melanda.
 Dengan mengkirabkan Tombak Korowelang ke seluruh penjuru Nusantara, menurut Kyai Sunarto, berbagai bencana alam seperti banjir dan angin puting beliung bisa diredam. Pemilik Tombak Korowelang akan membawa bangsa ini menuju tata titi tentrem, kerto raharjo, gemah ripah loh jinawi
Daya kasekten Tombak Korowelang ini adalah mampu menentramkan dan meredam setiap gejolak, baik yang bersumber dari manusia atau alam. Pusaka Tombak Korowelang  juga dikenal di Ponorogo, Jawa Timur. Tombak itu dikirab setiap bulan Suro dalam ritual Grebeg Suro di kota Warok itu.
 Korowelang juga merupakan nama keris pusaka Pangeran Samber Nyawa, yang masih dikirabkan setiap bulan Suro di Wonogiri. Danang Sutowijoyo alias Panembahan Senopati juga disebut-sebut pernah memiliki pusaka Jala Korowelang.

18 Juni 2011

BUNGA RAMPAI MISTIKUS



Dalam katalog historis setiap agama selalu dihiasi aneka rupa warna-warni aktualitas perjalanannya. Belum lagi yang diimbuhi dengan latar belakang budaya masing-masing wilayah penyebar dan tempat penyebarannya..
Dan yang banyak meninggalkan pesona ketakterhinggaan adalah katalog para mistikusnya. Yang salah satu kaji bagiannya tidak jarang dijadikan sebagai bahan diskursif antar personal maupun kelompok. Terkadang menjadi bagian argumentatif perenungan bagi sebagian orang. Lebih-lebih dengan pola analistik saat ini dimana orang lebih cenderung terpaku dalam persemayaman yang disebut ‘Rumah Materialistik’.
Seperti halnya dalam hagiografi spiritualis Islam, Tasawuf, Sufistik.
bahwa rasa-perasaan wilayah ini tidak menarik perhatian manusia pada umumnya.
Rasa-perasaan ini "diingkari oleh kalangan materialis, ditentang para teolog, diabaikan para pecinta, ditolak para ekstatis, diterima namun disalahpahami oleh teorisi dan pengikut Sufi itu sendiri".

Para Sufistik adalah mereka yang puas akan segala yang Allah lakukan agar Allah menjadi puas dengan apa yang mereka lakukan. Membuat Allah Puas!

Abu Said : “ Sufi adalah kejayaan di dalam kesengsaraan,
Kekayaan di dalam kemiskinan,
Keagungan di dalam pengabdian,
Dan rasa kenyang di dalam kelaparan,
Berpakaian di dalam ketelanjangan,
Kebebasan di dalam perbudakan,
Dan kehidupan di dalam kematian,
Serta kemanisan di dalam kegetiran….

: “Tasawuf itu politheisme karena merupakan perlindungan hati dari serangan ‘yang lain’ dan sesungguhnya ‘yang lain’ itu tidak ada!” – istilah yang dilontarkan oleh Shibli.

Kunci para mistikus adalah selalu “Memugar Hati”.
Bahasa yang mereka gunakan seringnya adalah bahasa ungkapan dan terkadang menggunakan symbol serta analogi dimana hanya mereka saja yang mengerti. Terkadang bicara dan tulisan mereka sangat mengagumkan, terkadang mengagetkan dan bahkan seringnya adalah tanpa rasa takut dan sungkan. Itulah karena mereka asyik bercakap-cakap dengan Illahi dan selalu untuk ‘Kenyataan Rahasia’ di diri mereka sendiri.
Ana’l Haq” - (Akulah Kenyataan) – kata “Si Pemintal kapas di lubuk hati”

Pandangan mistikus selalu tertuju dalam kewaspadaan kepada yang Maha Mutlak.
Tujuan mistikus lebih terfokus kepada Fana wa Baqa.
Istilah Goethe : Stirb und Werde

Memecahkan botol tinta dan merobek serta memusnahkan buku-buku, dianggap sebagai langkah awal dalam tasawuf oleh beberapa mistikus Islam.
Buku memang merupakan pandu utama, tetapi dianggap keterlaluan jika masih saja tergantung dan disibukkan oleh pandu buku jika saja tujuan sudah tercapai.
Kearifan sejati, Kearifan Tunggal dianggap tidak akan dapat tercapai melalui buku dan tulisan.
Yang mengagetkan adalah istilah yang dilontarkan mereka : “Bukankah Nuh as yang sembilan ratus tahun hidupnya hanya dengan mengenang Allah?!”.
Namun kenyataannya, para mistikus juga tidak sedikit yang membuat tulisan dan bahkan merangkum dalam kitab-kitab.

Sana’i : “Pertama-tama kutulis kitab-kitab dengan seksama, akhirnya kupatahkan penaku dalam kebingungan.”

Bunga Rampai Kisah & Keajaiban.

Seperti kisah yang ditulis oleh Ibrahim Raqqi :
Ada suatu waktu aku berangkat untuk mengunjungi Muslim Maghribi.
Ternyata yang kucari ada di sebuah masjid sedang mengajar, saat itulah aku tahu ia ternyata salah mengucapkan al-hamd (Segala Puji bagi Allah).
Aku kecewa ternyata sia-sia belaka aku mencarinya.
Keesokan hari ketika aku menuju tepian sungai Bapbrata untuk wudhu, betapa kaget diriku ternyata ada seekor singa besar sedang tidur-tiduran menghalangi jalanku. Langsung aku membalikkan langkahku, namun apa yang terjadi?
Diriku mengalami kaget yang kedua kalinya, di hadapanku ada seekor singa lain!
Mendengar jerit keputusasaanku, datanglah Muslim dan betapa kaget diriku yang ketiga kalinya ketika kulihat singa singa itu tunduk dihadapannya, Muslim menjewer dengan santainya ke telinga masing-masing singa itu sambil berkata, “ Wahai anjing Tuhan, aku sudah pernah mengatakan kalian, jangan mengganggu tamu-tamuku.”
Lantas ia menoleh padaku : “O Abu Ishaq, engkau menyibukkan diri memperbaiki lahirmu demi ciptaan-ciptaan Allah, untuk itu kau takut pada mereka. Ketahuilah, urusanku adalah menyibukkan perbaikan bathin dengan selalu memugar hatiku demi Khaliq, untuk itu kau saksikan ciptaan-ciptaan-NYA tunduk kepadaku.”

Abu Nasr as-Sarraj, di suatu musim dingin ketika ia sedang asik membicarakan beberapa persoalan mistik dengan rekan-rekannya, tiba-tiba ia terkena ‘Kondisi Allah’ dan menyurukkan wajahnya ke bara api serta bersujud di tengah-tengah nyala api tanpa terkena baker setitik pun.

Demikian pula apa yang terjadi pada Beyezid Bistami, ketika murid-muridnya mencoba membunuhnya, yang terjadi justru luka-luka tampak pada tubuh masing-masing muridnya. Seorang mistikus sempurna adalah cermin murni yang memantulkan kembali sifst-sifat orang-orang itu sendiri.

Sebuah cerita menarik lainnya adalah kisah mistikus dari Afrika Utara yang bersilaturahmi pada wali lainnya dengan mengendarai seekor singa jantan gagah. Kemudian oleh tuan rumah ia dipersilahkan menaruh singanya di kandang tempat sapi-sapi peliharaan tuan rumah.
Kemudian setelah itu sang tamu memasuki kediaman tuan rumah dan melihat tuan rumahnya sedang dikelilingi penari-penari yang cantik jelita elok rupawan, sehingga lantas terbersit penilaian si tamu meragukan kualitas ruhani si tuan rumah.
Namun apa yang terjadi keesokkan harinya, si tamu terkaget-kaget bukan main demi mendapatkan singanya habis dimangsa oleh sapi tuan rumah.

Tidak hanya itu saja bahkan binatang-binatang pun menjalankan peranannya dalam kisah-kisah para mistikus.
Terutama kucing, sering dihubungkan dengan keajaiban, bahkan ditengarai banyak biarawan memeliharanya sebagai pengawal, Ada yang beranggapan bahwa, sakina (kehadiran ilahi) tampak dalam wujud seekor kucing putih mulus dan tidaklah mengherankan bahwa mistikus pengemis yang aneh dari Hedawa (Maroko)memuja-muja kucing secara terang-terangan dan bahkan mualaf (orang-orang yang baru masuk Islam) diistilahkan dengan quetat (kucing kecil)
– ( bukankah Rasulullah saw juga sangat menyayangi binatang yang satu ini) -.

Tidak saja fauna, flora dan alam pun patuh kepada sahabat Allah.

Seperti yang dialami pada Abdul-Qadir Gilani; (sesuai dengan legenda) :
Nama bulan dalam perputaran satu tahun kalendar yang berjumlah 12, akan menghadirkan diri kepadanya sebagai wujud manusia.
Namun dengan perwujudan yang berbeda-beda, terkadang sebagai wanita cantik, pria muda gagah atau bahkan sosok buruk rupa sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada masa empat minggu yang akan berlaku pada bulan berikutnya.

Bagi mistikus muslim, hubungan erat dengan dunia fauna sudah tidak mengherankan, sebab setiap ciptaan atau makhluk memuja Tuhan dengan suaranya sendiri. Dan bagi siapa yang telah memurnikan jiwanya memahami puji-pujian mereka dan akan dapat ikut serta memuja bersama mereka.
Jika seorang mistikus dapat menaklukan “anjing jiwa bawah”, maka otomatis setiap ciptaan Tuhan menjadi patuh dan tunduk kepadanya.
Sebaliknya, mereka para wali akan menganggap sebagai suatu kemunduran perjalanan ruhani yang sangat dalam , apabila hewan-hewan itu menjadi tidak patuh dan menganggapnya sebagai ‘sesuatu yang lain’, maka saat itulah ia harus sesegera mungkin untuk bertobat! Jadi Hewan pun dapat dijadikan sebagai bahan renungan sekaligus evaluator bagi keruhanian mereka.

Dan masih banyak kisah keajaiban yang dilakukan oleh para mistikus, namun sampai seberapa jauhkah sahnya seorang mistikus untuk menunjukkan keajaiban-keajaiban?!

Pada suatu kesempatan seorang mursyid memarahi seseorang yang bertanya tentang macam keajaiban apakah yang dilakukan oleh seorang sufi, lantas dijawab : Apakah bukan keajaiban yang besar bila seorang jagal yang juga keturunan seorang jagal, tertarik untuk memasuki ‘suluk’ sebagai seorang salik lantas kemudian berbincang-bincang dengan Khidr as dan kemudian mendapat kunjungan orang banyak untuk mendapat rahmat. Yang mana bahwa sang mursyid menjawab berdasarkan perhatian penuh atas perjalanan kehidupan sufi itu.

Mursyid ulung menganggap keajaiban-keajaiban adalah godaan-godaan dalam Jalan menuju-NYA. Istilah yang paling sarkastis tentang pseudo-mistik masalah tersebut :
“keajaiban-keajaiban adalah menstruasinya kaum lelaki.” – yang menunjukan arti bahwa keajaiban adalah semata-mata hijab atau penghalang antara manusia dengan Khaliq.

Untuk itu para wali pun beristilah : “Lebih baik mengembalikan sebuah hati yang mati ke kehidupan yang kekal daripada mengembalikan seribu tubuh mati (bangkai) ke kehidupan”

Rumi : “Jangan bersedih, ia tidak akan hilang darimu;
Tidak, tetapi seluruh dunia akan hilang dalam dirinya.”

Keindahan Illahi disingkapkan dengan keindahan manusiawi :

Bayangan akan kosmos adalah qibla bagi para pertapa,
Bayangan Adam adalah qibla bagi para kekasih

Dimana pertentangan hukum di mata para kekasih yang mengembara dalam kenyataan merupakan debu di perkampungan Illahi.
Demikian dapat dinyatakan senyata kenyataan pada “Hari Perjanjian Purba” “(Surah Ar-Rahman ayat …) dengan kalimat :

“Jiwa terbang ke dunia kasih Illahi dengan sayap-sayap kasih manusiawi”

Bunga Rampai Analogi

Ruzbihan Baqli : “Perhatikanlah, karena hati adalah para kasih-NYA, disana bunga mawar Adamdi ranting Kasih adalah tajalli mawar-NYA. Bila jiwa Bulbul mabuk karena mawar ini, maka ia akan mendengar dengan telinga jiwa-NYA nyanyian burung Allast di tempat air mancur pra-kekekalan”

Bunga Mawar (:
Sebagai perlambang pengejawantahan keagungan Allah – pengukuhan penghayatan religius
Gemerlapan kehadiran Illahi dilukiskan tampak nyata seperti sekuntum bunga mawar merah segar yang mengagumkan. Karena bunga ini melukiskan pengungkapan keindahan dan keagungan Illahidengan begitu sempurna.

Burung Bulbul (Nightingale) :
Melambangkan kerinduan Jiwa untuk kembali pulang ke sarangnya
Burung Bulbul yang melambangkan Jiwa rindu tentu akan mengasihi Bunga Mawar selama-lamanya.
Dengan atau tanpa kesadaran, Bulbul berkonotasi metafisik dengan Jiwa dan Mawar dengan ke-Illahian.

"Aku mengetahui rahasia-rahasia cinta," kata burung bulbul. "Sepanjang malam aku mengungkapkan rasa cintaku. Aku mengajarkan sendiri rahasia-rahasia itu. Lagu cintaku adalah ratapan seruling mistik dan kecapi. Akulah yang memekarkan bunga Mawar dan menggetarkan hati para pecinta. Dengan tiada henti aku mengajarkan misteri-misteri baru, setiap saat muncul nada-nada kesedihan baru, laksana gelombang di lautan. Siapa pun mendengarkanku lenyaplah kecerdasannya karena terpesona dan hilanglah kesadarannya. Bila aku sudah kehilangan rasa cintaku pada sang Mawar, aku meratap tiada henti ... Bila sang Mawar kembali ke dunia di musim panas, hatiku begitu suka-ria. Rahasia-rahasia cintaku tidak diketahui mereka -- namun sang Mawar mengenal mereka. Yang aku pikirkan hanya sang Mawar, yang aku rindukan hanya Mawar merah delima."

[Menurut kajian ilmiah Sir David Attenborough, burung Bulbul mampu menyanyikan 300 lagu cinta yang berbeda pada kicauannya. Dinamakan lagu cinta karena burung ini mampu bernyanyi untuk pasangannya sepanjang malam.]
Simurgh :
Perlambang raja Jiwa para burung-burung
Permainan kata dalam kesustraan Parsi, mengutarakan secara cerdas pengalaman identitas Jiwa dengan hakikat Illahi :
"Untuk menggapai Simurgh adalah di luar kemampuanku -- cinta pada sang Mawar sudah cukup bagi burung bulbul. Karenaku Mawar menjadi mekar ... Mungkinkah burung bulbul hidup satu malam pun tanpa Sang Kekasih?"

Tokoh Syech San’an :
Sebagai perlambang penyerahan kasih sejati yang paling dikenal tanpa memandang tradisi-tradisi keagamaan, reputasi, nama ataupun kemasyhuran

(dan masih banyak lagi makna ragam analogi)


Bunga Rampai “Pernyataan dan Ungkapan”:

“Segala sesuatu merupakan yang dikasihi dan kekasih adalah selubung,
Hidup adalah yang dikasihi dan kekasih mati.” – Ruzbihan Baqli

“Dan Hasilnya tidaklah lebih dari tiga kata ini :
Aku terbakar dan terbakar dan terbakar “ - Rumi

“Andai tak ada ruang Jiwa, tak akan ada Jalan mistik, karena tiada jarak antara kau dan Dia yang dapat dilangkahi oleh kakimu”

“Tiada kedatangan kepada Allah kecuali oleh Allah, sebagaimana juga tiada batas antara pengabdi dan Allah kecuali nafs-nya. Seseorang tidak menentang nafs dengan nafs tetapi melawannya dengan nama Allah” – Ibn Abbad

“Oleh-NYA Sendiri Ia melihat Diri-NYA Sendiri….Tidak seorangpun melihat Dia kecuali Dia, tidak nabi yang diutus, tidak pula wali yang sempurna, tidak pula malaikat yang dekat mengetahui Dia. Utusan-NYa adalah Dia dan nabi-NYA adalah Ia dan Firman-NYA adlah Ia. Dia mengutus Diri-NYA Sendiri dengan Ia Sendiri kepada Dia sendiri” – Ibn ‘Arabi

“Ia adalah seperti kita, tawanan Keinginan” - Iqbal

- Ibarat serangga yang mengalami ‘ilm al-yaqin sewaktu melihat cahaya pelita, lalu mencapai ‘ayn al-yaqin bisa ia mendekat dan merasakan panas api, dan memperoleh haqq al-yaqin ketika akhirnya ia terbakar habis oleh api pelita- Husayn Ibn Mansur al-Hallaj

“Jika Allah mencintai hamba-NYA, Ia membuatnya menderita dan kalau Ia teramat mencintai-NYA, Ia menguasainya tanpa keluarga dan harta benda” – Fudayl Ibn ‘Iyad (Mantan perampok yang tersohor yang selama tiga puluh tahun hanya sekali saja tampak tersenyum saat anak laki-lakinya wafat)

“Ya Allah, di depan umum kupanggil Kau “Junjunganku’, tetapi di dalam kesunyian kupanggil Kau “Kekasihku” – Dhun-Nun

(dan masih banyak lagi makna ragam pernyataan dan ungkapan)

Bunga Rampai “Istilah” :

Mutasawwif, sufi sejati yang selalu dengan ketat berusaha mencapai kemurnian rohani

Mustawif, berpura-pura menjadi ahli mistik tetapi sebenarnya hanya merupaka pengganggu yang tak berguna

Hahut, Hakikat Illahi

Lahut, Kodrat Illahi

Jabarut, keberadaan rohani tanpa wujud (sabda Illahi dan daya rohani)
Mithal, alam eksistensialisasi

Malakut, alam malaikat

Nasut, penciptaan kemanusiaan

Himma, lapisan yang diraih oleh hasrat-hasrat besar dan doa-doa para waliullah

Fana, peleburan utuh

Baqa’, kelestarian, tinggal di dalam Tuhan

Jam, ketenangan , penyatuan sejati

Tafriqa, perpisahan setelah penyatuan

Uns, kedekatan

Washad, rasa takut karena kesepian

Sahw, kejernihan pikir

Shauq, kerinduan

Isyq, cinta yang teramat sangat kepada Illahi

Hayba, rasa khidmat yang teramat sangat

Lisan ul-hal, keadaan bicara sendiri (dengan Allah)

Iltibas, tersembunyinya keindahan pribadi dalam wujud-wujud yang tercipta sebagai pencitraan kenyataan Illahi.

Tajalli, pengejawantahan

Quth, kutub, pemimpin hirarki sufi
Gauth, pertolongan

Pir, syaikh

Al-bakka’u , orang-orang yang senantiasa menangis karena Allah

Talib ad-dunya – yang mencari keduniawian
Talib al-akhira – yang mencari alam barzah
Talib al-maula – yang mencari Tuhan

Qurb, dekat sekali, jarak terdekat

Dhauq, pengalaman ruhani

Sahw, ketenangan hati
Qabd, sikap menahan diri terhadap segala sesuatu

Hayaman, cinta kasih yang menggebu serta kekaguman yang luar biasa

Khamyaza, menganga ‘rindu tak terhingga’ (– kerinduan daratan yang ingin memeluk samudera)

Hama ust, segala sesuatu adalah Dia

Hudur wa ghaiba, hadir dan tak hadir

Shahid al-ghaib, saudara kembar

al-waiz, juru khotbah

Khirqa, jubah sufi (biasanya bertambal perca-perca seperti pengemis)
  • Khirqa-yi irada : didapat dari calon mursyid setelah di baiat
  • Khirqa-yi tabaruk : jubah yang didapat dari berbagai mursyid

Sabzpush, “yang memakai jubah hijau” taraf rohaniah yang tinggi
Tennure, baju panjang berwarna putih tanpa lengan
Destegul, jaket berlengan panjang
Sikke, topi atau kopiah (tanda khusus tarekat Mevlevi)

Arbain, chilla, : meditasi selama empat puluh hari
Tark at-tark, : melepaskan pelepasan

(dan masih banyak lagi makna ragam istilah)

Bunga Rampai “Makna Warna” :

Warna Putih : yang berhubungan dengan Islam
Warna Kuning : Imam
Warna Biru Tua : Ihsan
Warna Biru : Hayaman
Warna Hitam :. Jalal (Keagungan sifat Illahi yang tiada terperi)
Warna Merah : Akal
Perpaduan Biru, Kuning & Merah : Ilmu

(dan masih banyak lagi makna ragam warna)

Bunga Rampai “Nama Julukkan”

Banyak para mistikus sufi yang mencari nafkah dengan bekerja dan nama panggilan mereka banyak yang mencitrakan dari profesi mereka :
hallaj : penyortir kapas ; nassaj: penenun; banna: tukang batu; qawariri: pembuat gelas; haddad : tukang besi; saqati; penjaja.

(dan masih banyak lagi ragam nama panggilan tokoh mistikus)

Apa yang nyata tertulis ini adalah sebagai bunga rampai dan hanya bagian titik kecil permukaan dari kedalaman dimana mutiara Elite Ruhani bersemayam.

Tidak memiliki apa-apa tetapi memiliki semuanya.
Berjalanlah atas kehendak Pemilik Jalan.
Selamat Jalan para fakir pencinta

Sender :
yosisumantri@gmail.com

11 Juni 2011

TITIK BA

Para Pencari Allah mengatakan bahwa barangsiapa yang ingin berjumpa dengan Allah maka hendaknya ia mencariNya di Titik’Ba’. Konon salah satu ilmu yang sangat tinggi ada pada Titik Ba’ tersebut dan menurut keterangan dari orang -orang khawas salah satu anugrah Allah yang diberikan kepada Waliullah seperti Sunan Kali Jaga adalah Anugerah kedalaman Ilmu yang dicurahkan oleh Allah dalam kandungan Ilmu Titik Ba’ kepadanya..
Dengan ilmu titik Ba’ yang diberikan oleh Allah sehingga atas izin Allah beliau sanggup menerawang ke alam Malakut dan sanggup melakukan hal-hal yang luar biasa diluar kemampuan manusia umumnya, itulah suatu Mu’jizat suatu Qaramah yang dianugerahkan oleh Allah kepadanya.
Ada apa dengan Titik Ba’ itu ? bagaimana sehingga seorang hamba yang mampu menyelam kesamudera ilmu Allah akan mendapatkan anugerah dan pencerahan ruhani yang maha dahsyat ? lalu apakah hanya dengan menyelam ke dalam titik Ba’ kemahadahsyatan itu akan tersingkap ? tidak adakah titik yang lain selain titik Ba’ ? sebagaimana Allah bisa disifati dan mensifati dari berbagai macam sudut cakrawala alam ?
Seorang Salik yang haus dengan Ilmu tentang Allah belumlah sempurna keilmuannya tentang Allah sebelum menyelam dalam berbagai misteri tentang Sifat, Asma, Af’al dan DzatNya Allah Ta’ala. Keempat terminal perjalanan ruhani ini adalah pintu pintu yang lain yang harus dilalui seorang Hamba sebelum mencapai terminal akhir tentang Allah. Terminal ini adalah pintu menuju Alam Malakut yang didalamnya seorang Hamba akan tercerahkan dengan Nur Ilahiyah, dimana sang hamba hanya bisa memandang alam ‘Ketiadaan ‘ alam ‘Kesunyian’ yang tiada bunyi, tiada gerak, dan yang ada hanya ‘Dia’ yang penuh Misteri.
Ketika seorang Hamba Allah, telah sampai dalam perjalanan dengan Maqam Ba’ (Bashar ) kepada Allah apakah telah sampai pula dan selesai perjalanannya menuju Allah ?
Ternyata belum…! Perjalanan itu masih panjang dan masih sangat jauh tak terhingga oleh ruang dan waktu, Sehingga perjalanan itu akan terlampaui oleh hanya dengan Bashar kepada Allah.
Memang, seorang Hamba bisa mencapai kepuasan spiritual ketika telah mencapai maqam ‘Ba’ shar’ dengan memandang kepada Dia. Tetapi perlu diketahui bahwa sesungguhnya seorang Hamba selain perlu mencapai maqam Ba’shar kepada Dia masih perlu menempuh maqam lain yaitu Ni’matullah kepada Dia. Jika seorang hamba telah mencapai kedudukan Ba’shar kepada Dia maka perlu baginya menyatu dengan ‘Kenikmatan’ bersamaNya. Dengan demikian Titik Ba’ yang masih berada dibawah anugerah dan wadah alam malakut perlu diangkat ke atas sehingga Titik itu menjelmakan dirinya menjadi Titik Nun.

Ya….! Titik Nun….! Bagaimana caranya….. ? Biarkanlah dirimu dalam genggaman ‘Af’al Nya Allah, pada saatnya engkau akan diangkat dari wadah alam malakut ke atas Lama Nur Ni’matullah bersamNya.

Seorang Arif pernah berdo’a :

Ya Allah ….Engkau yang telah meperjalankan hamba kepadaMu, .. dengan membuka pintu-pintu kemudahan bagiku, membukakan sebutir pintu hkmah rahasia tentang diriMu. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui akhir perjalananku kepada Mu.
Ya Allah …bantu aku mengenal diriku dengan diriMu, yang Maha Halus, mengenal namaku dari rahasia -rahasia AsmaMu yang Maha Terpuji karena sesungguhnya engkaulah yang Maha Menggenggam segala Tubuh, Hati , Nyawadan Rahasiaku.

6 Juni 2011

R U H


Ibnu Taimiyyah menjelaskan, "Ruh penggerak badan yang meninggalkan badan melalui kematianada lah ruh yang ditiupkan ke dalam badan, itulah jiwa yang akan meninggalkan badan dengan cara kematian".1
Sungguh telahkeliru apabila ada yang menyatakan bahwa ruh dan jiwa itu adalah dua hal yang berbeda,karena dari dalil-dalil yang telah kita sebutkan dapat diketahui bahwa jiwa yang dicabut malaikat, dibawa naik ke atas langit, dikembalikan ke jasadnya, ditanya, lalu diberi nikmat atau disiksa,itulah ruh yang keluar dari jasad diikuti pandangan mata, sebagaimana termaktub dalam hadits-hadits terdahulu.
Makhluk inilah yang menimbulkan kehidupan, bahkan kehidupan akan lenyap bersamaan dengan perginya makhluk ini, makhluk ini disebut ruh dan jiwa, meskipun dua kata ini terkadang memiliki makna yang beragam.
Terkadang maksudnya adalah jibril, firman-Nya :
Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril). [QS. Asy-
Syu'aro' (26) : 193]

Terkadang maksudnya adalah al-Qur'an, firman-Nya :
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al Qur'an)
dengan perintah Kami. [QS. Asyuuro (42) : 52]
Penjelas kitab ath-Thohawiyyahmenyimpu lkan, "Mayoritas penyebutan jiwa adalah apabila ruh itu masih bersambung dengan badan, adapun apabila telah dicabut dan berdiri sendiri maka mayoritasnya disebut ruh".2
Ibnu Taimiyyah menjelaskan, "Disebut jiwa ditinjau dari perannya mengatur badan, disebut ruh ditinjau dari kehalusannya, maka dari itu angin disebut juga sebagai ruh, sabda Nabi :

Angin itu dari ruh Alloh. HR. Al-Bukhori dalam al-Adab al-
Mufrod, Abu Dawud dan al-Hakim.
Maksudnya : berasal dari ruh yang telah diciptakan Alloh.3
Apakah Kita Bisa Mengetahui Sifat-Sifat Ruh?
Ruh diciptakan dari jenis bahan yang tidak ada yang semisal dengannya di alam nyata, maka dari itu kita tidak bisa mengetahui sifat-sifatnya. Akan tetapiAlloh telah menjelaskan kepada kita bahwa ruh itu naik dan turun, mendengar, melihat serta berbicara dst, hanya saja sifat- sifat tersebut berbeda dengan sifat-sifat jasad yang kita kenal, maka naik dan turunnya, mendengar, melihat, berdiri dan duduknya bukanlah seperti yang kita ketahui, sebagaimanaNabi juga memberitakan, bahwa ruh itu dibawa naik ke langit yang paling tinggi, kemudian

dikembalikan ke kubur dalam waktu yang singkat, diberi nikmat atau disiksa, yang pasti semua itu berbeda dengan apa yang telah kita ketahui.
Ruh Berbeda Dengan Badan
1) Sebagian kaum filsafat dan ahli bid'ah dari kalangan Jahmiyyah dan Mu'tazilahberpendapat bahwa ruh itu bagian atau sifat dari badan, sebagian mengatakan,"Ruh itu adalah nafas atau udara yang beredar didalam tubuh", sebagian yang lain mengatakan, "Ruh itu adalah kehidupan, sesuatu yang tercampur atau badan itu sendiri".4
Maka dari itu mayoritas dari mereka mengingkari adanya
siksa kubur, sehingga bagi mereka tidak ada ruh yang diberi nikmat atau disiksa di alam kubur, akhirnya merekapun menolak dalil-dalil yang menyatakan hal itu.
Dengan ini, mereka telah mendustakan berbagai dalil
mutawatir dan mengingkari pokok agama yang seharusnya
sudah mereka ketahui.
2) Kaum filsafat lainnyameny atakan bahwa jiwa itu tetap ada setelah berpisah dengan badan, akan tetapi mereka namakan sebagai akal, dan bagi mereka, akal itu berbeda dengan segala zat dan sifat-sifatnya, zat yang mereka maksud adalah jasad, sedangkan akal adalah sesuatu yang berdiri sendiri, tidak bergerak, tidak diam dan tidak berubah sama sekali.5
Maka dari itu mereka mengatakan, apabila ruh berpisah
dari badan, maka keadaannya akan pasif, baik ditinjau dari
segi ilmu, pemahaman, pendengaran, pengelihatan, keinginan, senang serta kegembiraan dst dalam berbagai hal yang mungkin bisa berubah, bahkan ruh itu akan tetap berada pada kondisi yang satu seperti permulaannya dan akan abadi, sebagaimana yang mereka sangkakan terhadap akal dan jiwa.6
3) Sebagian kaum filsafat lainnyamenyifat i ruh dengan apa yang mereka istilahkan sebagai wajibul wujud (sesuatu yang pasti ada), padahal kenyataan sesuatu dengan sifat-sifat itu tidak mungkin ada, merekamenyatakan, ruh itu tidak didalam tubuh dan tidak juga diluarnya, tidak berpisah dengan badan dan tidak juga menyatu dengannya, tidak bergerak dan tidak juga diam, tidak naik dan tidak juga turun, bukan sesuatu yang nyata dan bukan juga sesuatu yang abstrak.7
Dua kelompokmeng akui keberadaan ruh yang berpisah dari badan, akan tetapi dikarenakan ruh adalah makhluk yang tidak sejenis dengan badan bahkan berbeda sama sekali, maka
mereka
sulit
untuk
mendefinisikan
dan
menggambarkannya.
Sebab utama mereka menyimpang dalam hal ini adalah,
dikarenakan mereka sangat mengandalkan akal dan berbagai
kias buatan mereka dalam meneliti perkara gaib ini.
Adapun orang-orang yang menaati Alloh dan Rosul-Nya serta
beriman kepada keduanya, maka Alloh menunjuki mereka, sehingga mereka mengetahui bahwa ruh itu merupakan satu bentuk perwujudan yang berbeda dengan perwujudan badan yang nyata ini, itulah perwujudan nurani yang tinggi ringan hidup dan bergerak, ada dan mengalir didalam inti-inti
anggota badan seperti mengalirnya air dalam bunga mawar, seperti mengalirnya minyak dalam buah zaitun, demikian juga bagai api dalam bara.
Selama jasad ini masih bisa menerima makhluk yang halus
ini, maka dia akan tetap bergabung dengan badan, sehingga badan akan tetap bisa merasakan, bergerak dan berkeinginan. Akan tetapi apabila jasad telah rusak dikarenakan telah dikuasai campuran-campuran yang berat dsb, sehingga tidak bisa lagi bereaksi dengan ruh, maka ruh akan berpisah dari jasad menuju alam arwah.8
Diantara dalil yang mejelaskan bahwa ruh itu merupakan
sesuatu yang berbeda dengan jasad adalah sbb. :
Alloh memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan.9 Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. [QS. Az-Zumar (39) : 42]
8 Inilah penjelasan Ibul qoyyim dalam bukunyaar - Ruuh dan telah dinukil para ulama
terdahulu.
9 Maksudnya: orang-orang yang mati itu rohnya ditahan Alloh sehingga tidak dapat
kembali kepada tubuhnya; dan orang-orang yang tidak mati hanya tidur saja, rohnya
dilepaskan sehingga dapat kembali kepada tubuhnya lagi.
Kalau kalian melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan bagian belakang mereka (dan berkata): "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar", (tentulah kamu akan merasa ngeri). [QS. Al-Anfaal (8): 50]
Alangkah dahsyatnya sekiranya kalian melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu". [QS. Al-An'aam
 (26) Sekali-kali jangan. apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan. (27) Dan dikatakan (kepadanya): "Siapakah yang dapat menyembuhkan?". (28) Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia). (29) Dan bertaut betis (kiri) dan betis