20 Maret 2013

Selama bertahun-tahun setelah dugaan peristiwa jatuhnya sebuah piring terbang (UFO) di sebuah lahan peternakan yang terletak 60 kilometer di utara Roswell, New Mexico, banyak rumor berkembang mengenai mayat alien bertubuh kecil yang (konon) ditemukan di dekat bangkai wahana terbang tersebut merupakan makhluk luar angkasa yang hendak menyerbu bumi. Setidaknya itulah anggapan yang dianut oleh beberapa pemerhati Ufologi. Dan konon, mayat alien beserta bangkai UFO-nya itu kini masih tersimpan disuatu tempat yang begitu rahasia. Tempat terlarang bagi para warga sipil yang sering disebut sebagai Hangar 18. Namun, benarkah demikian? Hangar 18 merupakan salah satu bagian dari Wright-Patterson Air Force Base, yaitu basis pangkalan udara Amerika Serikat yang terletak di daerah Greene dan Montgomery, 13 km timurlaut dari pusat bisnis Dayton, Ohio, Amerika Serikat. Hangar 18 yang dikatakan memiliki relevansi dengan peristiwa Roswell tersebut memang begitu misterius. Sesuatu yang menjadi misteri ialah benarkah tersimpan jasad alien Roswell di tempat ini? Kebanyakan peneliti UFO di abad 21 masih mencari potongan benang merah yang hingga kini masih menjadi kontroversi akan peristiwa misterius tersebut. Banyak laporan dari beberapa warga setempat dan personel militer yang mengklaim merupakan saksi mata peristiwa Roswell berbicara mengenai lima jasad asing yang ditemukan di tempat kejadian. Bukan satu jasad alien, tetapi lima. Diantara mereka menambahkan, ada empat jasad diangkut ke Hangar 18, sedangkan mayat kelima dibawa ke salah satu basis USAF (United States Air Force) di Lowry Air Force Base. Dua tahun sebelum kematiannya pada akhir 1990-an, pilot Oliver “Pappy” Henderson pernah bersumpah disuatu reuni bagi para veteran Perang Dunia II, bahwa ia pernah terbang bersama empat jenasah makhluk-makhluk Roswell tersebut keluar dari Roswell Army Field dalam pesawat kargo C-54, Juli 1947.Don Schmitt dan Kevin Randle menulis didalam buku mereka “UFO Crash at Roswell”, dalam satu sesi wawancara bersama Brigjen. Gen Arthur Ekson, mereka mendapatkan beberapa informasi mengenai empat mayat asing yang diterbangkan ke Wright-Patterson Air Force Base. “Jasad-jasad makhluk asing tersebut semua ditemukan diluar sisa-sisa wahana yang mereka tumpangi, dan keempatnya diterbangkan ke Wright-Patterson”. Dalam penyelidikan berikutnya, Randle menuliskan bahwa sebagian besar laporan dari saksi mata mengatakan memang terdapat lima jasad yang ditemukan di lokasi kejadian. Penyelidikannya ini mengkonfirmasi klaim yang dibuat sebelumnya bahwa empat mayat diterbangan ke Hangar 18, Wright-Patterson Air Force Base, sedangkan jasad kelima dibawa ke Lowry Air Force Base. Namun terdapat pula laporan lainnya yang mengatakan satu dari lima alien Roswell berhasil diselamatkan dan masih hidup ketika beberapa personel tentara melakukan olah TKP disana. Bahkan beberapa peneliti UFO percaya hingga tahun 1986 entiti asing tersebut masih hidup dan diperlakukan dengan baik sebagai “tamu” angkatan udara di Hangar 18, Wright-Patterson. Hingga kini, misteri masih menyelimuti Hangar 18. Teka-teki mengenai keberadaan jasad alien di sana masih belum terjawab. Kasus jatuhnya UFO di Roswell yang merupakan sumber dari lahirnya spekulasi alien di Hangar 18 pun masih banyak disangsikan kebenarannya. Pihak militer Amerika Serikat jauh-jauh hari telah mengklarifikasi bahwa tidak ada UFO jatuh di Roswell. Bangkai-bangkai yang diduga UFO tersebut hanyalah merupakan sebuah balon cuaca yang jatuh, dan jasad yang diduga alien tersebut hanyalah boneka yang ikut diudarakan bersamanya. Namun menurut argumen beberapa penganut Ufologi, banyak kejanggalan pada kasus Roswell dan mereka mengatakan sesuatu yang penting telah ditutup-tutupi pemerintah Amerika Serikat mengenai peristiwa ini. Apabila hanya balon cuaca yang jatuh, mengapa pihak militer terlihat begitu panik, dan apa tujuan mereka mengerahkan begitu banyak personel-nya ke tempat kejadian hanya untuk sebuah balon cuaca? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang membuat misteri Roswell dan Hangar 18 tetap hidup hingga saat ini.
Pada jaman Jalandhara, banyak Para Asura yang memiliki ‘kesadaran tinggi’. Karma telah mengaturnya. Alam telah mengaturnya. Para Asura yang berkesadaran tinggi ini memang harus berjodoh dalam satu babak kehidupannya untuk bertemu, untuk dekat dengan Jalandhara. Pada jaman itu, Rsi Sukracharya telah berhasil membimbing para Asura. Dapat dipastikan, pada kehidupan selanjutnya, mereka akan terlahirkan sebagai manusia. Melalui Rsi Sukracharya, para Asura pilihan ini mengetahui bahwasanya Para Deva tengah terlena. Tengah kehilangan kekuatan Dharma-nya. Di alam Surga tidak ada bencana alam, di alam Surga tidak ada murka alam. Dan apabila Para Deva terlena, menyimpang dari Dharma, sudah sejak dulu, sejak jaman dahulu, Para Asura pilihan akan menjadi tangan Alam. Menjadi wakil Alam, membuahkan karmaphala. Kondisi seperti ini tidak bisa dipastikan kapan terjadinya. Namun apabila Para Deva jatuh kesadarannya, pasti akan lahir ‘Putra Sang Avatara’ dialam Asura untuk memimpin para Asura pilihan mengingatkan Para Deva. Alam Surga dan alam Neraka punya keunikan hukum alam-nya sendiri. Alam manusia lepas dari keunikan hukum alam Surga dan alam Neraka. Alam manusia punya hukum alam sendiri. Dan hukum alam di alam manusia, lebih membangun, lebih memicu peningkatan kesadaran. Para Asura pilihan ini, dengan penuh kesadaran, siap menegakkan Dharma. Siap mengingatkan Para Deva. Dan manakala, Jalandhara menawarkan mereka untuk menjadi duta, duta untuk memperingatkan Para Deva di Surga, maka, banyak yang menawarkan diri. Jalandhara mengutus para Asura yang terpilih menjadi duta menyampaikan peringatan ke Surga. Isi peringatan yang sampaikan oleh Jalandhara kepada Para Deva adalah, bahwasanya hasil pengadukan Lautan Susu, Samudera Manthana pada masa lalu, yaitu Tirtha Amrta, tidak sepantasnya dinikmati oleh Para Deva-Deva yang yang berkesadaran rendah seperti mereka saat ini. Jika mereka tidak segera sadar, Jalandhara, Raja Para Asura, akan menyerang Surga! Duta dari bangsa Asura hanya mampu sampai dipintu gerbang Surga. Mereka menyampaikan pesan dari Jalandhara. Mendapati pesan bernada ancaman seperti itu, Para Deva penjaga gerbang, Para Yaksha, melaporkannya kepada Indra. Indra yang mendapat laporan seperti itu, bangkit kepongahannya. Ancaman para Asura, ibarat seperti ancaman dari segerombolan kucing menantang segerombolan harimau. Mana mungkin para Asura mampu menyerang Surga. Menginjakkan kakinya saja, tidak akan mampu, apalagi memasuki Surga dan menyerang Surga. Indra segera mengutus seorang Deva untuk memberi jawaban. Dan jawaban itu sangat-sangat menghina Para Asura. Duta para Asura, mendengar jawaban yang penuh kesombongan itu segera kembali ke alam Neraka dan melaporkannya kepada Jalandhara. Mendengar jawaban Para Deva yang tidak sepatutnya diucapkan oleh bangsa Deva, Jalandhara, dengan persetujuan Rsi Sukracharya, segera mengatur barisan perang! Para Asura pilihan telah berkumpul. Mereka menantikan detik-detik mendebarkan. Dengan adanya ‘Putra Shiva’ ditengah-tengah mereka, mereka membulatkan tekad, siap berperang demi Dharma. Perang ini bertujuan untuk membersihkan Surga dari ‘sel-sel kanker ganas’ yang akan merusak kesadaran Para Deva. Para Asura yang ikut berperang, dan yang tidak tergiur kenikmatan surgawi, berperang hanya demi menegakkan hukum alam, dapat dipastikan, pada kelahiran selanjutnya akan menjadi manusia. Dan, berduyun-duyun Para Asura datang memperkuat barisan Jalandhara. Dengan persiapan lengkap. Dengan patuh dan percaya penuh kepada Rsi Sukracharya dan Jalandhara, berangkatlah pasukan Asura menuju alam Surga. Para Deva sejatinya bukanlah pengendali alam. Pengendali alam adalah Brahman sendiri. Ada Deva maupun tidak, alam akan tetap berputar, berevolusi dan beraktifitas. Hukum-hukum alam dikendalikan oleh karmaphala,oleh hukum sebab akibat, bukan karena ada campur tangan Para Deva. Para Deva hanyalah Atma-Atma yang menghuni alam Surga. Ada Surga Matahari (Surya), ada Surga Bulan (Chandra), ada Surga Air ( Varuna ), dan Surga-surga yang lain. Sesungguhnya, mereka cuma penghuni. Mereka tidak berkuasa sepenuhnya kepada Surga yang mereka huni. Sebagaimana manusia yang menghuni Bumi, manusia tidak berkuasa sepenuhnya atas Bumi. Ada hal-hal diluar kuasa manusia yang seringkali terjadi di Bumi, seperti bencana alam, perubahan cuaca, dll. Semua itu murni digerakkan oleh hukum alam, tidak ada Deva apapun yang mengendalikannya. Begitu juga Para Deva diatas Surga yang mereka tempati. Mereka tidak berkuasa sepenuhnya. Hukum alam lebih berkuasa di atas semesta ini. Jangan terkecoh! Dan Surga terindah, sebagai mascot dari semua Surga adalah Amaravati. Disinilah Indra bertempat tinggal. Disinilah pusat semua alam Surga, kota kebanggaan Para Deva. Surga Matahari ( Surya), Surga Bulan ( Chandra ) dan Surga-surga yang lain, tidak bisa mengalahkan keindahan Amaravati. Deva bukan Malaikat. Malaikat hanyalah metafora. Dimana alam, Prakrti, membalaskan karma baik kepada seluruh makhluk, alam akan dipandang sebagai Malaikat. Bila Prakrti atau Alam membalaskan karma buruk kepada seluruh makhluk, Alam dipandang sebagai Iblis. Maka dari itu, konon MALAIKAT TERCIPTA DARI CAHAYA DAN IBLIS TERCIPTA DARI API, BISAKAH KITA MEMISAHKAN CAHAYA DARI API? RENUNGKAN. CAHAYA ADALAH WUJUD HALUS API DAN API ADALAH WUJUD HALUS CAHAYA. HAKIKATNYA ADALAH SATU KESATUAN. ( Baca catatan saya mengenai Karmaphala dan Punarbhava.) Dan, Jalandhara memilih menyerang Amaravati. Karena Amaravati adalah symbol kekuasaan Para Deva. Dengan kekuatan ‘Illahi’-nya, Jalandhara dengan mudah menjebol pintu gerbang Surga! Para Yaksha gempar, seluruh penghuni Surga tak mengira pintu Surga bisa dengan mudah dijebol oleh Jalandhara! Begitu pintu Surga terbuka, para Asura pilihan, dengan mudahnya masuk dan mampu menginjakkan kaki di Surga! Kenyataan ini membuat seluruh penghuni Surga ketakutan!! Para Asura langsung merangsak maju ketengah kota Amaravati. Para Deva mati-matian membendung gerak laju para Asura. Melihat kenyataan ini, Indra tertegun. Dia merasakan bahwasanya, ini semua adalah buah karma buruk dari seluruh Para Deva yang telah larut dalam kepongahannya ! Kini, Mahadeva telah murka! Diantara Para Deva, terbagi menjadi dua kelompok, ada yang berperang hanya sekedar menjalankan Dharma-nya, mematuhi aturan semesta. Bahwa siapapun, yang belum terlahirkan sebagai Deva, tidak berhak menguasai Surga. Di kelompok kedua, ada yang berperang karena tidak rela kenikmatan mereka diganggu gugat. Begitu juga di kalangan Para Asura, ada yang berperang hanya sekedar menegakkan Dharma, mengingatkan Para Deva, tetapi akhirnya ada juga kelompok kedua yang berubah niat setelah melihat keindahan Surga, mereka tergiur ingin memiliki segala kenikmatan yang terhampar didepan mata mereka. Siapa yang menegakkan Dharma, baik dari kalangan Para Deva dan Para Asura, inilah Atma-Atma pilihan. Atma-Atma yang menorehkan buah karma cemerlang dan dicatat oleh Prakrti. Dan mereka akan menikmati limpahan karunia ‘Kesadaran Sejati.’. Siapa yang hanya menginginkan kenikmatan Surga, itulah Atma-Atma yang akan jatuh. Dipihak Para Deva, mereka yang mati-matian mempertahankan kenikmatan surgawi, kelak akan lahir kembali menjadi Asura. Sedangkan dipihak Para Asura, mereka akan tetap terlahir sebagai Asura. Rsi Sukracharya, Rsi Brhaspati dan Jalandhara menjalankan tugas mereka, untuk mencari Atma-Atma pilihan diantara Para Deva dan Asura! Namun, pasukan Asura terpukul mundur. Banyak yang gugur dimedan laga. Rsi Sukracharya, dengan menggunakan ramuan Sanjivani, memberikan kehidupan baru bagi yang gugur. Beliau atas ijin Mahadeva, memberikan kesempatan kedua bagi para Asura yang gugur untuk memperbaiki niatnya. Dan Para Deva tercengang ketika mengetahui, para Asura yang gugur, dapat hidup kembali! Kini, giliran Para Deva yang terdesak hebat, banyak Para Deva yang gugur. Rsi Brhaspati, Guru dari para Deva, memberikan ramuan yang sama, ramuan Sanjivani. Para Deva yang gugur, dapat dihidupkan kembali. Seperti Rsi Sukracharya, Rsi Brhaspati memberikan kesempatan kedua bagi Para Deva untuk memperbaiki niatnya! Mengetahui akan hal itu, Jalandhara meminta petunjuk kepada Rsi Sukracharya, dimanakah tempat tanaman Sanjivani tumbuh. Dia hendak memusnahkannya. Rsi Sukracharya segera menyuruh Jalandhara menuju sebuah gunung bernama Drona. Hanya disana tanaman Sanjivani tumbuh. Tanpa menunggu waktu, diiringi oleh beberapa Asura yang lain, Jalandhara untuk sementara meninggalkan barisan, mencari Gunung Drona. Setelah diketemukan, dengan kekuatan Illahi-nya, Jalandhara mencabut Gunung itu dan melemparkannya ketengah-tengah lautan semesta! Para Asura yang melihat kekuatan Jalandhara, takjub dan ketakutan! Mendapati Gunung Drona lenyap, Para Deva gempar! Kekuatan macam apakah yang mampu melenyapkan Gunung itu? Kecuali Mahadeva Shiva atau Vishnu sendiri, tidak mungkin bisa terjadi! Dengan hilangnya Gunung Drona, satu persatu, pasukan Para Deva berjatuhan, gugur! Indra, beserta para penghuni surga yang lain, diiringi vidyadara dan vidyadari, apsara dan apsari serta gandarva dan gandharvi, segera meninggalkan Amaravati. Dan Amaravati, kini dukuasai oleh para Asura yang dipimpin oleh Jalandhara! Para Deva yang gugur, adalah mereka-mereka yang tidak layak dan tidak kuat dengan jerat surgawi. Mereka harus keluar, tidak berhak lagi hidup menghuni surga. Atma mereka akan jatuh, kembali menjadi makhluk dibawah Deva, harus lahir menjadi Asura. Maka berhati-hatilah menjadi seorang Deva. Indra, Para Deva dan seluruh yang meninggalkan Amaravati, menjadikan Bumi, alam manusia sebagai tempat pelariannya. Mereka turun ke Gunung Himalaya, gunung tertinggi dialam manusia. Yang senantiasa diselimuti oleh salju abadi. Di Gunung ini, memang kerap kali dijadikan kunjungan oleh Para Deva. Gunung ini memang penuh misteri. Dan disana, tanpa sepengetahuan manusia yang berkesadaran rendah, kecuali para Yogi, mereka sementara bersembunyi. Pilihan ini diambil, karena mereka yakin, para Asura tidak akan mengira Para Deva turun ke alam manusia. Para Asura mungkin akan mengira bahwa para Deva melarikan diri ke Surga-surga yang lain. Selama disana, mereka merundingkan langkah selanjutnya. Mereka tidak menyangka, begitu kuatnya Jalandhara. Dan mereka mulai menyadari, bahwasanya, ini semua adalah karma buruk mereka. Dan Jalandhara mungkin bukanlah Asura asli. Menduga-duga akan hal itu, Para Deva menjadi ketakutan sendiri. Daripada menduga-duga, Indra memutuskan untuk menemui Avatara Brahman, Deva Vishnu dialam Satya. Tapi hal itu beresiko. Karena untuk menuju alam Satya, harus melewati enam alam lagi diatas Bumi. Dan dari keenam alam itu, salah satunya adalah alam Surga yang kini dikuasai oleh Jalandhara. Namun, demi untuk mengembalikan tata aturan semesta, dan demi menyesali dosha-dosha mereka, Indra, dengan diiringi beberapa Deva, nekad hendak menghadap ke alam Satya, menemui Deva Vishnu. Sedangkan para Deva yang lain, untuk sementara bersembunyi, bertebaran diseluruh Gunung Himalaya. Perjalanan penuh resiko-pun ditempuh. Karena Indra walaupun angkuh tapi juga masih memiliki karma baik yang besar, maka ia mampu mencapai alam Satya dengan selamat. Tiba digerbang Alam Satya, Para Deva segera bersujud sembari mengucarkan mantra-mantra Veda. Mereka mengakui segala kesalahan mereka dan memohon bantuan Deva Vishnu Yang Agung. Dan Deva Vishnu-pun berkenan menemui mereka. Memasuki Vaikunthaloka, tempat kediaman Atma-Atma suci ini, Para Deva terus menerus mengucarkan mantra-mantra Veda. Dan manakala mereka telah bertemu dengan Deva Vishnu yang nampak berkilau-kilauan, mereka mengakui segala kesalahan mereka dan memohon bantuan Sang Avatara. Deva Vishnu tersenyum, Dia sudah mengetahui semuanya, dan dengan tegas, Deva Vishnu menolak memberikan bantuan-Nya. Betapa sedih Indra dan Para Deva. Mereka keluar dari Vaikunthaloka dengan harapan yang pupus. Ditengah kegalauan mereka, Indra memutuskan untuk menemui Rsi Naraddha, Rsi Illahi yang terkenal bijak. Untuk menuju tempat Rsi Naraddha, Para Deva juga harus menempuh resiko. Karena buah karma baiknya juga, Indra dan Para Deva dapat menemui Rsi Naraddha dengan selamat. Rsi Naraddha telah tahu semuanya. Beliau mengerti bahwa scenario illahi tengah berjalan. Dan kini, beliau mengambil perannya setelah Rsi Sukracharya dan Rsi Brhaspati telah mengambil dahulu peran mereka. Rsi Naraddha menyanggupi membantu Para Deva. Beliau akan pergi ke Surga sendiri, menemui Jalandhara dan Rsi Sukracharya. Kedatangan Rsi Naraddha di Surga adalah sebuah kehormatan besar bagi Para Asura. Mereka menyambutnya dengan suka cita. Setelah bertemu dengan Jalandhara dan Rsi Sukracharya, maka Rsi Naraddha segera mengatakan bahwa sudah cukup memberikan hukuman bagi Para Deva. Kini, sudah saatnya Jalandhara mencari Deva Shiva. Sudah saatnya Jalandhara menyatu lagi dengan-Nya. Mendengar akan hal itu, Jalandhara gembira. Pembebasan Purna sudah ada didepan mata. Rsi Naraddha menyuruh Jalandhara segera pergi ke alam Satya, ke Shivaloka, mencari Dia disana. Diiringi oleh Asura pilihan yang benar-benar mempunyai karma baik luar biasa, Jalandhara segera berangkat kea lam Shivaloka. Ketika rombongan Jalandhara tiba digerbang alam Shivaloka, Para Gana, penghuni alam Shivaloka terkejut mendapati ada Asura yang mampu mencapai gerbang Shivaloka. Mereka segera mengusir para Asura itu. Para Asura, terlempar jatuh dari Shivaloka. Namun walau bagaimanapun, mereka yang terlempar sangat-sangat gembira karena bisa menginjakkan kaki di Shivaloka, itu adalah suatu pencapaian luar biasa bagi mereka dalam wujudnya seorang Asura. Para Asura terlempar keluar dari gerbang Shivaloka. Namun Jalandhara tidak! Para Gana takjub. Mereka menanyakan keinginan Jalandhara. Jalandhara berkeinginan untuk bertemu dengan Deva Shiva sendiri. Para Gana kebingungan, mana mungkin itu terjadi? Seorang Asura, tidak akan mungkin bisa memasuki alam Satya untuk bertemu dengan Shiva. Ditengah kebingungan itu, Devi Parvati atau Devi Durgha sendiri muncul dengan tiba-tiba! Melihat Devi Parvati, Jalandhara tergetar hebat! Dia mengalami loncatan kesadaran luar biasa. Dia ekstase! Dia ekstase hanya dengan melihat-Nya! Namun tak lama, Devi Parvati menghilang kembali. Jalandhara kebingungan. Dia bergerak mencari-cari Devi Parvati. Dia mengaduk-aduk seluruh semesta! Semesta bagaikan sebuah roda ditangannya! Para Gana gempar dibuatnya!!! Shiva dan Parvati, masih mempunyai sebuah rencana bagi Jalandhara. Kelak, Deva Vishnu harus turun kedunia, mewujud sebagai Shri Rama. Tujuannya untuk menghancurkan wujud evolusi jasmaniah yang menyimpang dialam manusia. Karena banyak evolusi jasmaniah manusia telah salah jalur. Tercipta perwujudan-perwujudan tidak sempurna di alam manusia. Banyak tercipta wujud manusia setengah hewan. Pun Shrii Rama juga harus menghancurkan ras manusia purba, keturunan Cakshusha Manu (Manu yang keenam) yang masih tersisa. Wujud evolusi fisik manusia yang stabil untuk waktu sekarang, harus menggunakan wujud keturunan Vaivasvata Manu, Manu yang ketujuh. ( Dalam Veda, Manu atau Adam tidak hanya ada satu, dalam proses dari Penciptaan sampai Kiamat, akan turun empat belas Manu atau empat belas Adam. Dan kita, manusia modern, homo Sapiens, adalah wujud dari keturunan Manu ke tujuh yang disebut Vaivasvata Manu. Masih harus ada tujuh Manu lagi, tujuh Adam lagi yang harus turun membentuk ras-ras manusia baru yang lebih sempurna. Setelah lengkap empat belas Manu atau Adam, baru kiamat semesta akan terjadi.Jangan terkecoh dengan ramalan-ramalan kiamat yang hendak datang pada waktu dekat ini!) Ras manusia purba, keturunan Caksusha Manu, Manu keenam, sudah tidak cocok sebagai wadah Atma untuk berevolusi. Masa guna-nya sudah habis. Dan untuk itulah Deva Vishnu harus turun menjadi Shri Rama kelak. Dan demi tujuan itu, harus ada sebuah ‘sebab’ yang menyebabkan Dia lahir. Harus ada kesalahan kecil yang disengaja sebagai syarat agar Dia bisa lahir ke alam manusia. Dia harus mematuhi aturan semesta yang Dia ciptakan sendiri. Walaupun Dia mampu mewujud tanpa dipengaruhi oleh sebuah ‘sebab’, tapi Dia tidak akan melanggar aturan alam yang telah Dia tetapkan sendiri. Inilah Keberadaan. Inilah Tuhan Yang Sesungguhnya. Dia tidak semau gue, seenak udelnya sendiri. Dia mematuhi aturan semesta, aturan yang dibuat-Nya sendiri. Untuk memberi contoh kepada manusia, bahwasanya mengikuti sebuah aturan, sebuah hukum, adalah perbuatan yang Dia haruskan! Dan ‘sebab’ itu, akan Dia peroleh dari Vrnda, istri Jalandhara, bagian tubuh Parvati yang mewujud dialam Asura. Permainan illahi, kadang membingungkan, tapi indah. Para penghuni alam satya memohon kepada Sang Avatara Agung untuk menghentikan Jalandhara. Dan Deva Vishnu sendiri segera turun ke alam Asura. Dia akan menghentikan suplay energi Jalandhara yang didapatkan dari Vrnda, istrinya. Dia akan mengalihkan suplay energi itu kesebuah wujud illusi. Dan bila Vrnda mengetahui bahwa dia telah mengalirkan energy ke arah yang salah, Vrnda harus marah, dan harus mengutuk Vishnu. Dan dengan kutukan itu, maka Vishnu akan dapat ‘menurun’ kealam yang lebih rendah, yaitu alam manusia. Dan Dia akan lahir sebagai Shri Rama. Inilah permainan illahi. Deva Vishnu, diiringi beberapa Atma-Atma suci dari Vaikunthaloka, turun kea lam Asura. Mereka menuju ke taman kerajaan Jalandhara. Dia, Vishnu yang agung, menyamar sebagai seorang pertapa, dan duduk bermeditasi ditengah petamanan istana. Para Atma-Atma suci juga menyaru, menyamar sebagai makhluk-makhluk kecil yang mirip kera. Berkeriapan memenuhi petamanan istana. Vrnda yang keluar dari istana dan sedianya menuju petamanan, terkejut melihat seluruh taman dipenuhi makhluk-makhluk aneh. Dan begitu melihat ada seorang pertapa yang tengah duduk bermeditasi di tengah pertamana, dia segera menghambur dan memeluk pertapa itu. Pertapa yang tak lain adalah Deva Vishnu Yang Agung, melihat Vrnda ketakutan melihat banyak makhluk ganjil yang berkeriapan dipetamanan istananya, maka pertapa ini mengeluarkan suara aneh. Begitu suara-Nya terdengar, makhluk-makhluk mirip kera ini menyibak, menepi. Mereka memberi jalan kepada dua ekor makhluk mirip kera yang datang menghadap kearah pertapa sambil membawa mayat seorang Asura. Melihat mayat itu adalah mayat suaminya, Vrnda segera memohon agar mayat itu dihidupkan kembali. Vishnu tersenyum, maka dia hidupkan mayat Jalandhara palsu itu. Mendapati suaminya hidup lagi, Vrnda segera memeluknya. Namun terjadi keanehan, energi Vrnda tidak dapat mengalir kearah sosok tubuh yang dipeluknya. Mendapati akan hal itu, Vrnda segera berkata kepada sang pertapa : “Oh, pertapa. Engkau telah menipu aku. Kini seluruh kekuatan suamiku telah hilang karena aku telah menyalurkannya kearah yang salah. Karena perbuatanmu ini, kelak kamu juga akan dipisahkan dengan istrimu. Dan hanya dengan bantuan pasukan manusia kera, kamu akan memperoleh istrimu kembali.” Selesai berkata seperti itu, Vrnda memejamkan mata. Tubuhnya berubah menjadi gulungan energi. Melesat cepat, menuju alam Satya dan bersatu kembali dengan Devi Parvati. Vishnu tersenyum. ‘Sebab’ untuk kelahirannya telah Dia dapatkan. Dan Dia, kembali ke Vaikunthaloka. Disana, Jalandhara sudah kehabisan energi untuk mencari-cari Parvati. Dan sudah saatnya Shiva muncul. Shiva muncul dihadapan Jalandhara, diangkatnya Tri sula-Nya, dipenggallah kepala Jalandhara, DIPENGGALAH EGO JALANDHARA YANG TERSISA! Begitu ego Jalandhara lepas dari tubuhnya, Jalandhara mencapai kebebasan Purna. Dia menyatu kembali dengan Shiva. Mendengar kabar itu, Para Deva di bumi bersuka cita, mereka segera menuju Amaravati. Dan para Asura yang tinggal di Amaravati, begitu Jalandhara telah menyatu lagi dengan Shiva, mereka tidak kuat lagi tinggal Surga, vibrasi alam Surga tiba-tiba tidak sesuai dengan vibrasi tubuh mereka sepeninggal Jalandhara. Maka, mereka segera keluar dari Surga, menuju ke alam Neraka. Indra yang telah menyadari kesalahannya, bertahta kembali di Surga. Sedikit Energi Vrnda jatuh ke alam manusia. Energi ini menumbuhkan sebuah pohon bernama Tulasi. Dan didaerah mana pertamakali pohon ini muncul, daerah itu dinamakan Vrndavana. Dimana kelak, didaerah inilah Shri Krishna akan lahir. Dan Shrii Krishna sangat menyayangi pohon Tulasi. Siapapun yang mempunyai timbunan karma baik berlimpah, maka otomatis alam akan menumbuhkan buahnya. Berupa kemakmuran, kemashyuran, kemujuran, kekuasaan, dll. Dan dari sekian banyak buah karma baik, hanyalah ‘tumbuhnya kesadaran yang dikatakan buah utama. Apabila karma baik itu berbuah kemakmuran, kemashyuran, kemujuran, kekuasaan, dll, sangat rentan dengan ‘kejatuhan kesadaran’. Rentan merosot ketingkat bawah lagi. Banyak yang tergelincir oleh karenanya. Dan fenomena seperti itulah yang tengah terjadi pada Para Deva di jaman Jalandhara. Surga adalah alam kenikmatan, berlimpah kemakmuran, kemashyuran, kekuasaan, sensualitas dan segala bentuk kenikmatan material. Atma-Atma yang lahir disana, banyak yang terjebak. Lupa tujuan semula. Surga bisa berbuah racun bagi peningkatan kesadaran. Bagi yang ‘sadar’, Surga bukan tujuan utama. Surga bukan tempat suci. Surga hanyalah salah satu alam, seperti alam-alam yang lain. Surga memanjakan indera-indera. Maka pemimpin Surga-pun, diberi gelar INDRA. Di Surga banyak terdapat ras Deva, sesuai dengan karmanya. Ada ras Vidyadara-Vidyadari (Bidadara-Bidadari), ras Apsara-Apsari, ras Gandharva-Gandharvi, ras Nagha bahkan ada juga ras setengah Deva, sebut Yaksha-Yakshi. Ras Yaksha inilah kebanyakan mendapat pekerjaan sebagai pasukan, sebagai tentara. Maka jangan heran, apabila anda memasuki kompleks suci umat Hindhu Bali, anda akan disambut sepasang arca menyeramkan sebagai penjaga pintu Pura yang biasa dinamakan Dvaraphala. Inilah penggambaran ras Yaksha, makhluk setengah Deva. Diatas alam Surga, barulah dikatakan sebagai alam suci. Dan kesuciannya bertingkat, semakin keatas semakin suci. Ada alam Tapa, alam Jana, alam Maha dan alam Satya. Dikeempat alam ini, dihuni juga oleh Para Deva yang tidak dibawah kuasa Deva Indra. Para Deva diatas alam surga adalah Deva-Deva yang bijak. Terdiri juga dari berbagai ras, ada Brahma Rsi, Deva Rsi, Sapta Rsi, Satya Rsi, Panca Rsi, dll. Rsi Brhaspati, guru Para Deva di alam Surga, berasal dari salah satu alam ini. Begitu juga Rsi Sukracharya, guru para Asura. Penghuni alam diatas Surga, sangat dihormati oleh Para Deva, Asura dan Manushya. Sedangkan para penghuni alam Neraka, yaitu Para Asura, tersebar ditujuh alam Naraka, yaitu Patala, Vaitala, Nitala, Mahatala, Sutala, Talatala dan Rasatala. Dibawah alam Neraka, ada sebuah alam tersembunyi. Hanya penghuni alam Satya saja yang mampu mengetahuinya. Inilah alam Deva Yama atau Yamaloka. Sebuah alam misterius, dimana seluruh makhluk yang telah menemui kematiannya, untuk sementara akan singgah dialam ini. Disinilah diputuskan, Atma tersebut, sesuai dengan buah karmanya, akan terlahirkan kembali menjadi apa. Deva Yama bukan Deva biasa. Deva Yama kedudukannya lebih tinggi dari pada Indra. Tidak sembarangan makhluk bisa memasuki alam ini sebelum kematiannya menjelang. Karena di gerbang alam Yama, selain dijaga oleh seekor Naga besar bernama Shesha, juga dibatasi oleh sungai beraliran deras dan berair darah bernama Vaitarani. Atma-Atma suci yang bertugas dialam Yama disebut Yamabhala. Mereka dipimpin oleh seorang Atma pilihan bergelar Mrtyu, yang artinya adalah Kematian! Para Asura juga terdiri dari banyak ras. Ada ras Ditya, ras Danava, ras Raksasha, ras Bhutakala, ras Paisacha, dll. Ada sebuah anugerah atau keistimewaan tersendiri bagi Para Asura. Mereka mampu mengetahui dimana letak alam Surga. Namun hanya sebatas itu. Mereka sama sekali tidak mampu memasukinya. Karena bagaimanapun juga, vibrasi badan mereka, tidak sesuai dengan vibrasi alam Surga. Diperlukan cara yang benar untuk memasukinya, yaitu melalui proses alami. Para Asura harus memperbanyak kebajikan, memperbanyak timbunan karma baik. Kelak bila kematian menghampiri, pasti akan terlahirkan dialam Surga atau dialam manushya. Menjadi Deva atau Manusia. Ada lagi satu alam, terletak diantara Bumi dan Surga. Dialam ini terkumpul Atma-Atma yang tidak menemukan jalan ke alam Yama. Atma-Atma penasaran. Atma-Atma yang menjelang kematiannya, terlalu terikat oleh duniawi. Tidak rela meninggalkan kenikmatan duniawi. Inilah alam tempat Ruh-Ruh penasaran berada. Atma-Atma yang terjebak antara dua dunia, dunia kehidupan dan kematian ini disebut Preta. Dalam ajaran Veda, Atma yang belum diupacarai sesudah dia meninggalkan dunia, akan otomatis menjadi Preta selama beberapa hari. Dengan upacara sraddha, mampu mendorong Atma yang meninggalkan dunia ini ‘menyadari bahwa ia telah mati.’ Begitu ia menyadari, ia akan mulai bergerak ke alam Yama. Bila ia sudah tergerak. Bila kesadarannya telah terbuka, maka ia baru bisa melihat jalan ke alam Yama. Ia baru bisa bertemu dengan Yamabhala. Selama belum ‘sadar’, belum ‘rela’, maka Yamabhala-pun tidak bisa membawanya ke alam Yama. Kekayaan, kedudukan, Istri atau Suami yang cantik atau tampan, bisa membuat seorang Atma tidak rela melepaskannya. Bila kesadaran rendah ini muncul, Atma akan terjebak dialam Preta. Evolusinya mandeg. Dan konyolnya, banyak manusia yang memanfaatkan Atma-Atma kebingungan ini sebagai ‘pembantu halus’ mereka. Inilah yang disebut ‘Prewangan’. Atma-Atma seperti inilah yang kerap kali marasuki seorang medium pemanggil Ruh. Atau bisa juga merasuki manusia yang kesadarannya tengah dalam kondisi ‘rendah’. Maka terjadilah fenomena kesurupan. Atma- Atma seperti inilah yang sering dimanfaatkan oleh manusia-manusia sebagai media menyakiti orang lain secara gaib ( Teluh, tenung, santet, dll), atau di-‘isi’ kan pada benda-benda tertentu yang lantas disebut Azimat, dll. Sungguh kasihan. Atma yang tengah kebingungan, bukannya malah ditolong dan disadarkan, tetapi malah dibuat medium untuk tujuan-tujuan yang kurang benar. Atma yang dibuat medium dan manusia yang menggunakannya sebagai medium, sama-sama tidak sadar.
Cara yang mudah untuk melepaskan keterikatan Atma dengan semua yang ia tinggalkan didunia adalah, ‘MEMBAKAR JASAD’-nya. Begitu jasad hancur menjadi abu, keterikatannya banyak berkurang. Dan kesadaran bahwa ‘aku telah mati’, akan muncul pada Atma yang terjebak ini.

13 Maret 2013

Misteri Ilmu Leak

Misteri Ilmu Leak
Orang Bali Kuno yang mempelajari ilmu ini adalah para petinggi-petinggi raja disertai dengan bawahannya. Tujuannya untuk sebagai ilmu pertahanan dari musuh terutama serangan dari luar. Orang-orang yang mempelajari ilmu ini memilih tempat yang cukup rahasia, karena ilmu leak ini memang rahasia. Jadi tidak sembarangan orang yang mempelajari.
Namun zaman telah berubah otomatis ilmu ini juga mengalami perubahan sesuai dengan zamannya. Namun esensinya sama dalam penerapan. Yang jelas ilmu leak tidak menyakiti. Yang menyakiti itu ilmu teluh atau nerangjana, inilah ilmu yang bersifat negatif, khusus untuk menyakiti orang karena beberapa hal seperti balas dendam, iri hati, ingin lebih unggul, ilmu inilah yang disebut pengiwa. Ilmu pengiwa inilah yang banyak berkembang di kalangan masyarakat seringkali dicap sebagai ilmu leak. Seperti yang dikatakan diatas leak itu memang ada sesuai dengan tingkatan ilmunya termasuk dengan endih leak. Endih leak ini biasanya muncul pada saat mereka lagi latihan atau lagi bercengkrama dengan leak lainnya baik sejenis maupun lawan jenis. Munculnya endih itu pada saat malam hari khususnya tengah malam. Endih leak ini tidak sama dengan sinar penerangan lainnya, kalau endih leak ini biasanya tergantung dari yang melihatnya. Kalau yang pernah melihatnya, endih berjalan sesuai dengan arah mata angin, endih ini kelap-kelip tidak seperti penerangan lainnya hanya diam. Warnanya pun berbeda, kalau endih leak itu melebihi dari satu warna dan endih itu berjalan sedangkan penerangan biasanya warna satu dan diam. Orang yang mempelajari ilmu ini harus di tempat yang sepi. Endih ini bisa berupa fisik atau jnananya (rohnya) sendiri, karena ilmu ini tidak bisa disamaratakan bagi yang mempelajarinya. Untuk yang baru-baru belajar, endih itu adalah lidahnya sendiri dengan menggunakan mantra atau dengan sarana.Harinya pun hari tertentu tidak sembarangan orang menjalankan untuk melakukan ilmu tersebut.Sedangkan yang melalui jnananya (rohnya), pelaku menggunakan sukma atau intisari jiwa ilmu leak. Sehingga kelihatan seperti endih leak, padahal ia diam di rumahnya. Yang berjalan hanya jiwa atau suksma sendiri. Bentuk endih leak ini beraneka ragam sesuai dengan tingkatannya. Ada seperti bola, kurungan ayam, tergantung pakem (etika yang dipakai). Ilmu ini juga memegang etika yang harus dipatuhi oleh penganutnya.
Karena endih leak ini memiliki sifat gelombang elektromagnetik mempunyai daya magnet.
Pada dasarnya, ilmu leak adalah ilmu kerohanian yang bertujuan untuk mencari pencerahan lewat aksara suci. Dalam aksara Bali tidak ada yang disebut leak. Yang ada adalah “liya, ak” yang berarti lima aksara (memasukan dan mengeluarkan kekuatan aksara dalam tubuh melalui tata cara tertentu).
Lima aksara tersebut adalah Si, Wa, Ya, Na, Ma. - Si adalah mencerminkan Tuhan - Wa adalah anugrah - Ya adalah jiwa - Na adalah kekuatan yang menutupi kecerdasan - Ma adalah egoisme yang membelenggu jiwa
Kekuatan aksara ini disebut panca gni (lima api). Manusia yang mempelajari kerohanian apa saja, apabila mencapai puncaknya dia pasti akan mengeluarkan cahaya (aura). Cahaya ini keluar melalui lima pintu indria tubuh yakni telinga, mata, mulut, ubun-ubun, serta kemaluan. Pada umumnya cahaya itu keluar lewat mata dan mulut. Sehingga apabila kita melihat orang di kuburan atau tempat sepi, api seolah-olah membakar rambut orang tersebut. Pada prinsipnya, ilmu leak tidak mempelajari bagaimana cara menyakiti seseorang. Yang dipelajari adalah bagaimana mendapatkan sensasi ketika bermeditasi dalam perenungan aksara tersebut. Ketika sensasi itu datang, maka orang itu bisa jalan-jalan keluar tubuhnya melalui ngelekas atau ngerogo sukmo. Kata ngelekas artinya kontaksi batin agar badan astra kita bisa keluar. Ini pula alasannya orang ngeleak. Apabila sedang mempersiapkan puja batinnya disebut angeregep pengelekasan. Sampai di sini roh kita bisa jalan-jalan dalam bentuk cahaya yang umum disebut endih. Bola cahaya melesat dengan cepat. Endih ini adalah bagian dari badan astral manusia (badan ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu). Di sini pelaku bisa menikmati keindahan malam dalam dimensi batin yang lain. Jangan salah, dalam dunia pengeleakan ada kode etiknya. Sebab tidak semua orang bisa melihat endih. Juga tidak sembarangan berani keluar dari tubuh kasar kalau tidak ada kepentingan mendesak. Peraturan yang lain juga ada seperti tidak boleh masuk atau dekat dengan orang mati. Orang ngeleak hanya shoping-nya di kuburan (pemuwunan). Apabila ada mayat baru, anggota leak wajib datang ke kuburan untuk memberikan doa agar rohnya mendapat tempat yang baik sesuai karmanya. Begini bunyi doa leak memberikan berkat : “ong, gni brahma anglebur panca maha butha, anglukat sarining merta. mulihankene kite ring betara guru, tumitis kita dadi manusia mahatama. ong rang sah, prete namah”. Sambil membawa kelapa gading untuk dipercikan sebagai tirta. Nah, di sinilah ada perbedaan pandangan bagi orang awam. Dikatakan bahwa leak ke kuburan memakan mayat, atau meningkatkan ilmu. Kenapa harus di kuburan? Paham leak adalah apa pun status dirimu menjadi manusia, orang sakti, sarjana, kaya, miskin, akan berakhir di kuburan. Tradisi sebagian orang di India tidak ada tempat tersuci selain di kuburan. Kenapa demikian? Di tempat inilah para roh berkumpul dalam pergolakan spirit. Di Bali kuburan dikatakan keramat, karena sering muncul hal-hal yang menyeramkan. Ini disebabkan karena kita jarang membuka lontar tatwaning ulun setra. Sehingga kita tidak tahu sebenarnya kuburan adalah tempat yang paling baik untuk bermeditasi dan memberikan berkat doa. Sang Buda Kecapi, Mpu Kuturan, Gajah Mada, Diah Nateng Dirah, Mpu Bradah, semua mendapat pencerahan di kuburan. Di Jawa tradisi ini disebut tirakat. Leak juga mempunyai keterbatasan tergantung dari tingkatan rohani yang dipelajari. Ada tujuh tingkatan leak. Leak barak (brahma). Leak ini baru bisa mengeluarkan cahaya merah api. Leak bulan, leak pemamoran, leak bunga, leak sari, leak cemeng rangdu, leak siwa klakah. Leak siwa klakah inilah yang tertinggi. Sebab dari ketujuh cakranya mengeluarkan cahaya yang sesuai dengan kehendak batinnya. Setiap tingkat mempunyai kekuatan tertentu. Di sinilah penganut leak sering kecele, ketika emosinya labil. Ilmu tersebut bisa membabi buta atau bumerang bagi dirinya sendiri. Hal inilah membuat rusaknya nama perguruan. Sama halnya seperti pistol, salah pakai berbahaya. Makanya, kestabilan emosi sangat penting, dan disini sang guru sangat ketat sekali dalam memberikan pelajaran. Selama ini leak dijadikan kambing hitam sebagai biang ketakutan serta sumber penyakit, atau aji ugig bagi sebagian orang. Padahal ada aliran yang memang spesial mempelajari ilmu hitam disebut penestian. Ilmu ini memang dirancang bagaimana membikin celaka, sakit, dengan kekuatan batin hitam. Ada pun caranya adalah dengan memancing kesalahan orang lain sehingga emosi. Setelah emosi barulah dia bereaksi. Emosi itu dijadikan pukulan balik bagi penestian. Ajaran penestian menggunakan ajian-ajian tertentu, seperti aji gni salembang, aji dungkul, aji sirep, aji penangkeb, aji pengenduh, aji teluh teranjana. Ini disebut pengiwa (tangan kiri). Kenapa tangan kiri, sebab setiap menarik kekuatan selalu memasukan energi dari belahan badan kiri. Pengiwa banyak menggunakan rajah-rajah (tulisan mistik). Juga pintar membuat sakit dari jarak jauh, dan dijamin tidak bisa dirontgent di lab. Yang paling canggih adalah cetik (racun mistik). Aliran ini bertentangan dengan pengeleakan. Apabila perang, beginilah bunyi mantranya, ong siwa gandu angimpus leak, siwa sumedang anundung leak, mapan aku mapawakan segara gni…bla…bla. Ilmu Leak ini sampai saat ini masih berkembang karena pewarisnya masih ada, sebagai pelestarian budaya Hindu di Bali dan apabila ingin menyaksikan leak ngendih datanglah pada hari Kajeng Kliwon Enjitan . Leak merupakan suatu ilmu kuno yang diwariskan oleh leluhur Hindu di Bali. Pada zaman sekarang ini orang bertanya-tanya apa betul leak itu ada?, apa betul leak itu menyakiti? Secara umum leak itu tidak menyakiti, leak itu proses ilmu yang cukup bagus bagi yang berminat. Karena ilmu leak juga mempunyai etika-etika tersendiri. Tidak gampang mempelajari ilmu leak. Dibutuhkan kemampuan yang prima untuk mempelajari ilmu leak. Di masyarakat sering kali leak dicap menyakiti bahkan bisa membunuh manusia, padahal tidak seperti itu. Ilmu leak juga sama dengan ilmu yang lainnya yang terdapat dalam lontar-lontar kuno Bali. Dulu ilmu leak tidak sembarangan orang mempelajari, karena ilmu leak merupakan ilmu yang cukup rahasia sebagai pertahanan serangan dari musuh.

5 Maret 2013

Shirath

Wujud Shirath Jembatan yang menghubungkan Mahsyar dengan Surga, menurut keterangan sahabat Abu Said, "Jembatan ini lebih kecil dari rambut dan lebih tajam dari pedang." Muhammad pernah bersabda: "Sesungguhnya Allah telah menciptakan Shirath yang berada di atas neraka, yaitu jembatan yang terletak di tengah-tengah neraka Jahannam yang sangat licin dan dapat menggelincirkan. Jembatan ini mempunyai 7 gardu (pos), yang setiap gardu jaraknya sama dengan perjalanan 3000 tahun, seribu tahun berupa tanjakan yang tinggi, seribu tahun berupa dataran, dan seribu tahun berupa lereng yang curam. Dia lebih kecil dan lembut dari pada rambut, lebih tajam dari pada pedang, dan lebih gelap dibandingkan malam yang pekat. Setiap gardu mempunyai 7 cabang, setiap cabang bentuknya bagai panah yang ujungnya tajam. Duduklah setiap hamba di atas setiap gardu tersebut dan ditanyakan kepadanya tentang perintah-perintah Allah." [sunting]Pertanyaan disetiap pos Selama perjalanan di shirath, setiap seorang hamba akan ditanyakan tentang apa saja yang telah ia kerjakan selama hidupnya. Pertanyaan disetiap pos adalah sebagai berikut:
Pos pertama iman, Pos kedua salat, Pos ketiga zakat, Pos keempat puasa, Pos kelima haji dan umroh, Pos keenam wudhu' dan mandi junub, Pos ketujuh tentang sikap terhadap kedua orang tua, menyambung tali persaudaraan dan penganiayaan terhadap sesama makhluk hidup.
Jika seorang hamba lolos dari semua pertanyaan-pertanyaan ini, maka tetaplah ia pada pos dan jika tidak, maka ia akan dilemparkan ke dalam neraka. Dalam suatu riwayat diceritakan: Sesungguhnya ketika manusia melewati jembatan, maka api neraka berada di bawah telapak kaki mereka, ada yang berada di atas kepala mereka, ada yang berada di sebelah kanan dan kiri mereka, serta ada yang berada di belakang dan di depan mereka. Allah berfirman dalam Surah Maryam: “ Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu, hal itu bagi Tuhanmu adalah kepastian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut." (Maryam [18]:71-72). ” Sedangkan api neraka itu selalu memakan tubuhnya, mulai dari kulit sampai dagingnya, sehingga orang yang lewat di atas jembatan itu bagaikan arang yang hitam, kecuali orang-orang yang selamat dari api neraka. Sebagian mereka ada yang melewati neraka tanpa disertai rasa takut terhadap apapun dari kesulitan dan tidak pula merasakan panasnya, hingga ia berkata pada akhir perjalanannya: "Dimanakah jembatan itu ?" Lalu dikatakan kepadanya: "Telah engkau lalui jembatan itu tanpa kesusasahan berkat rahmat Allah." Sepuluh kumpulan manusia di Shirath Manusia yang pertama kali menginjakkan kakinya di Shirath adalah Muhammad, dia akan memimpin kumpulan-kumpulan umatnya. Kumpulannya terbagi menjadi 10 bagian, yaitu: Kumpulan pertama berhasil melintasi seperti kilat yang memancar. Kumpulan kedua melintasi seperti angin yang kencang. Kumpulan ketiga melintasi seperti kuda yang baik. Kumpulan yang keempat seperti burung yang pantas. Kumpulan yang kelima berlari. Kumpulan keenam berjalan. Kumpulan ketujuh berdiri dan duduk karena mereka dahaga dan penat. Dosa-dosa terpikul di atas belakang mereka. Muhammad berhenti di atas Shirath. Setiap kali, Muhammad melihat seorang dari umatnya bergelayut di atas Shirath, kemudian ia akan menarik tangannya dan membangunkan dia kembali. Kumpulan kedelapan menarik muka-muka mereka dengan rantai karena terlalu banyak kesalahan dan dosa mereka. Bagi yang buruk, mereka akan menyeru: "Wahai Muhammad!" Muhammad kemudian berkata: "Tuhan! Selamatkan mereka! Tuhan! Selamatkan mereka"! Kumpulan kesembilan dan kesepuluh tertinggal di atas Shirath, mereka tidak diizinkan untuk menyeberang. Dikatakan bahwa, di pintu surga, ada pokok yang mempunyai banyak dahan. Bilangan dahannya tidak terkira hanya Allah saja yang mengetahui. Di atasnya ada anak-anak yang telah mati semasa di dunia ketika umur mereka belum baligh (dewasa). Apabila mereka melihat orang tua mereka, mereka menyambutnya dan mengiringi mereka memasuki surga. Mereka memberikan gelas-gelas dan cerek serta tuala dari sutera. Al-Shirath (Arab:الصراط Ash-Shirāth) adalah jembatan/ titian yang terbentang di atas permukaan neraka Jahannam yang sangat licin, memiliki kait, cakar dan duri. Setelah melewati masa di Mahsyar, kaum Muslim akan dibentangkan shirath bagi mereka di atas Jahannam sehingga mereka melintasi di atasnya dengan kecepatan sesuai dengan kadar keimanan mereka. Orang yang pertama kali melewatinya adalah Muhammad, kemudian Muhammad berdiri di tepi shirath seraya berdoa, “Rabbi, selamatkan, selamatkan!” Jika ada umat-Nya yang pernah menyekutukan Allah dengan kesyirikan besar dan belum bertaubat sebelum kematiannya, akan mengakibatkan kekekalan di dalam neraka. Adapun orang-orang kafir dengan berbagai jenisnya, musyrikin, penyembah berhala, atheis dan yang lainnya, mereka itu akan dimasukkan ke dalam neraka dan akan dibukakan ketujuh pintu Jahannam bagi mereka. Sesuai dengan surah Az Zumar: 71, “ Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahanam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya.(Az-Zumar [39]:71) ” dan Surah Al-Hijr [15]:44, “ Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.(Al-Hijr [15]:44) ”

Qarīn (Arab:قرين

Perkataan Qarin berasal daripada bahasa Arab yang berarti "teman", "pasangan" atau "pendamping". Istilah qarin kemudian meluas yang memiliki arti roh-roh jahat, yang terdiri daripada makhluk-makhluk halus yang sentiasa mendampingi manusia, sejak seseorang itu dilahirkan sehingga dia meninggal dunia. Qarin dalam Al-Qur'an dan Hadits Al-Qur'an telah menjelaskan tentang adanya Qarin dalam surah Az Zukhruf “ Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (Az Zukhruf 43:36) ” Hadits mengenai Qarin pun telah dicatat oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim, Muhammad bersabda kepada Abdullah Mas'ud, "Setiap kamu ada Qarin daripada bangsa jin, dan juga Qarin daripada bangsa malaikat. Mereka bertanya: "Engkau juga ya Rasulullah." Sabdanya: "Ya aku juga ada, tetapi Allah telah membantu aku sehingga Qarin itu dapat kuislamkan dan hanya menyuruh aku dalam hal kebajikan saja." Dalam kisah yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah, bahwa ketika tiba giliran Iblis untuk meminta, iapun berkata, “Ya Tuhanku, manusia (Adam) inilah yang telah Engkau muliakan atasku, kalau Engkau tidak memperhatikannya, aku tidak akan kuat menghadapinya.” Allah berfirman yang artinya, “Tidak akan dilahirkan seorang anak dari nya kecuali dilahirkan pula seorang anak dari bangsa kamu.” Iblis berkata lagi, “Ya Tuhanku, berilah tambahan kepadaku.” Allah s.w.t. berfirman, “Kamu dapat berjalan berjalan ditubuh mereka seperti mengalirnya darah dan kamu dapat membuat hati mereka sebagai rumah-rumah untuk kamu.” Qarīn (Arab:قرين, Qɑrɪn) adalah istilah yang digunakan untuk menunjuk kepada malaikat dan jin (golongan setan) yang mendampingi setiap manusia. Istilah ini digunakan di dalam Al-Qur'an dan dikatakan bahwa Qarin itu mengikuti manusia sejak lahir hingga mengalami ajalnya. Kedua makhluk itu dianggap sebagai "kembaran setiap manusia." Menurut keyakinan umat Muslim bahwa, pada umumnya Jin Qarin ini bertugas mendorong dampingannya untuk berbuat kejahatan. Dia membisikkan was-was, melalaikan salat, berat ketika hendak membaca Al-Quran dan sebagainya dan ia bekerja sekuat tenaga untuk menghalang dampingannya membuat ibadah dan kebaikan. Untuk mengimbangi adanya pendamping jahat, Allah mengutus Malaikat Qarin yang selalu membisikkan hal-hal kebenaran dan mengajak membuat kebaikan. Dalam beberapa hadits dikatakan bahwa Jin Qarin yang mendampingi Muhammad telah memeluk Islam, sehingga Muhammad selalu terjaga dari kesalahan.

Dzu as-Suwayqatayn (Arab: ذوالسويقتين

Secara bahasa Dzu as-Suwayqatayn berarti orang yang kedua-dua betisnya kecil. Mereka dinamakan Dzu as-Suwayqatayn dengan wazan (bentuk kata) yang menunjukkan bahwa kedua kakinya ringkih, kurus dan lemah. Julukan itu diberikan oleh Muhammad melalui beberapa hadits. Tokoh ini akan muncul di hari persis menjelang KIAMAT. Adalah kaum dari Habasyah yang akan menghancurkan Ka'bah menjelang hari kiamat. Dalam Musnad-nya Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa dia mendengar Rasulallah bersabda, "Dzu as-Suwayqatayn dari Habasyah akan menghancurkan Ka'bah, pengikutnya akan merampasnya dan menanggalkan kain kiswahnya. Seakan-akan saya melihatnya botak dan ditinggalkan." Dalam Shahin al-Bukhari dan Musnad Imam Ahmad diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulallah bersabda, "Seakan-akan saya melihat Ka'bah sedang diruntuhkan batu demi batu." Wujud fisik Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan sifatnya secara cermat, ia menyebutkan bahwa mereka berkulit hitam, kedua kakinya renggang dan ini termasuk ciri orang-orang Habasyah, ia juga menyatakan bahwa mereka rata-rata botak, ubun-ubunnya licin, persendian tulangnya bengkok sebagian keluar dari tempatnya. Pernyataan tersebut sesuai di dalam hadits shahih dari Ibnu Abbas berkata, saya telah mendengar Rasulullah bersabda, "Seolah-olah diriku melihatnya berkulit hitam, kedua kakinya saling berjauhan, dia mencongkel Ka’bah, batu demi batu." Dari Abdullah bin Amru bin al-Ash berkata, saya telah mendengar Rasulullah bersabda, "Ka'bah akan dirusak oleh Dzu as-Suwayqatayn dari Habasyah (Ethiopia), dicopotinya perhiasan Ka'bah dan dilepas kiswah (penutup)nya. Seolah-olah aku menyaksikan Dzu as-Suwayqatayn itu seorang berbadan kecil, botak, lagi berkaki pengkor (bengkok). Ia menghantam Ka'bah dengan sekop dan linggisnya." [sunting]Waktu terjadinya penghancuran Mengenai kapan akan terjadinya, para ulama berselisih pendapat tentang hal ini. Beberapa pendapat mengatakan; Zaman Isa bin Maryam, Setelah binasanya Ya’juj dan Ma’juj di mana orang-orang berhaji dan berumrah. Sebagaimana hal itu termaktub di dalam hadits Abu Said Al-Khudri berkata, Rasulullah bersabda, "Demi Allah, sungguh akan dilaksanakan haji dan umroh kepada rumah ini (baitullah) sesudah keluarnya Ya’juj dan Ma’juj." Setelah membunuh Dajjal, Isa bin Maryam akan singgah di Rauha’ yaitu sebuah tempat di antara Madinah dan lembah Shafra di jalan ke Mekkah. Di sana Isa berniat haji atau umrah atau menggabungkan antara keduanya. Dari Abu Hurairah berkata, saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda, "Sungguh Ibnu Maryam akan berihlal di jalan Rauha’ untuk menunaikan haji atau umrah atau menggabungkan keduanya."

Malak al Mawt ( ملكالموت)

Izrail (Arab:عزرائیل, Azrail, Asriel, Azaril dan Azrael) adalah Malaikat pencabut nyawa dan salah satu dari empat malaikat utama selain Jibril, Mikail, dan Israfil dalam ajaran Islam. Nama Izrail tidak pernah disebut dalam Al-Qur'an. Walau begitu ia selalu disebut dengan Malak al Mawt (Arab: ملكالموت) atau Malaikat Maut yang oleh sebagian kalangan diidentikkan sebagai Izrail. Disebutkan, ketika Allah SWT mencipta Al-Maut (kematian) dan menyerahkan kepada malaikat Izrail, maka berkata malaikat Izrail: "Wahai Tuhanku, apakah Al-Maut itu?". Maka Allah SWT menyingkap rahasia Al-Maut itu dan memerintah seluruh malaikat menyaksikannya. Setelah seluruh malaikat menyaksikannya Al-Maut itu, maka tersungkurlah semuanya dalam keadaan pingsan selama seribu tahun. Setelah para malaikat sadar kembali, bertanyalah mereka: "Ya Tuhan kami, adakah makhluk yang lebih besar dari ini?" Kemudian Allah SWT berfirman: "Akulah yang menciptakannya dan Aku-lah yang lebih Agung dari padanya. Seluruh makhluk akan merasakan Al-Maut itu". Kemudian Allah SWT memerintahkan Izrail mengambil Al-Maut Allah telah menyerahkan kepadanya. Walau bagaimanapun, Malaikat Izrail khawatir jika tidak terdaya untuk mengambilnya sedangkan Al-Maut lebih agung daripadanya. Kemudian Allah SWT memberikannya kekuatan, sehinggalah Al-Maut itu menetap di tangannya. Setelah itu Al-Maut berkata: "Ya Tuhanku, izinkanlah aku untuk berseru di langit sekali saja". Maka, setelah diizinkan, berserulah ia dengan suara yang amat keras: "Aku ini adalah Al-Maut, tugasku sebagai pemisah orang yang saling mencintai. Aku adalah Al-Maut, tugasku memisahkan antara anak dan ibunya. Aku adalah Al-Maut, tugasku memisahkan saudara lelaki dan wanita. Aku adalah Al-Maut, tugasku menghancurkan bangunan rumah dan gedung-gedung, Aku adalah Al-Maut, tugasku meramaikan kuburan. Aku adalah Al-Maut, tugasku mencari dan mendatangi kamu semuanya, walaupun kamu berada dalam lapis benteng yang amat kuat. Dan tiada satupun makhluk yang tidak merasakan kepedihanku". Malaikat Izrail diberi kemampuan yang luar biasa oleh Allah hingga barat dan timur dapat dijangkau dengan mudah olehnya seperti seseorang yang sedang menghadap sebuah meja makan yang dipenuhi dengan pelbagai makanan yang siap untuk dimakan. Ia juga sanggup membolak-balikkan dunia sebagaimana kemampuan seseorang sanggup membolak-balikkan uang. Sewaktu malaikat Izrail menjalankan tugasnya mencabut nyawa makhluk-makhluk dunia, ia akan turun ke dunia bersama-sama dengan dua kumpulan malaikat yaitu Malaikat Rahmat dan Malaikat `Azab. Sedangkan untuk mengetahui dimana seseorang akan menemui ajalnya Malaikat Maut bekerja sama dengan Malaikat Arham. Walau bagaimanapun, Izrail bersama Jibril, Israfil dan Mikail pernah ditugaskan ketika Allah menciptakan Nabi Adam. Israil juga adalah antara Malaikat yang sering turun ke bumi untuk bertemu dengan para nabi antaranya ialah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Idris a.s. Malaikat Izrail diciptakan oleh Allah SWT dalam keadaan yang serupa dengan malaikat Mikail baik wajahnya, ukurannya, kekuatannya, lisannya dan sayapnya. Semuanya tidak kurang dan tidak lebih. Dikatakan dia berwajah empat, satu wajah di muka, satu wajah di kepala, satu dipunggung dan satu lagi di telapak kakinya. Dia mengambil nyawa para nabi dari wajah kepalanya, nyawa orang mukmin dengan wajah mukanya, nyawa orang kafir dengan wajah punggung dan nyawa seluruh jin dengan wajah tapak kakinya. Dari kepala hingga kedua telapak kakinya berbulu Za'faran dan di setiap bulu ada satu juta muka di setiap satu juta muka mempunyai satu juta mata dan satu juta mulut dan tangan. Ia memiliki 4.000 sayap dan 70.000 kaki, salah satu kakinya di langit ketujuh dan satu lagi di jembatan yang memisahkan Surga dan Neraka. Setiap mulut ada satu juta lidah, setiap lidah boleh berbicara satu juta bahasa. Jika seluruh air di lautan dan sungai di dunia disiramkan di atas kepalanya, maka tidak setitik air pun akan jatuh melimpah. Kematian Izrail Disebutkan pula, setelah seluruh makhluk hidup sudah dicabut nyawanya pada hari kiamat kelak dan makhluk yang tersisa tinggal malaikat Izrail lalu Allah SWT menyuruhnya untuk mencabut nyawanya sendiri, demi melihat dahsyatnya sakarataul maut yang sedang terjadi terhadap dirinya, beliau mengatakan "Ya Allah seandainya saya tahu ternyata pedih sekali sakaratul maut ini, tidak akan tega saya mencabut nyawa seorang mukmin". Perintah mencabut nyawa dari 'Arsy Menurut kisah Kabil Akbar, Malaikat Maut tidak mengetahui kapan tiap-tiap makhluk yang akan mati. Dikatakan olehnya Allah telah menciptakan sebuah pohon (Sidrat al-Muntaha) di bawah 'Arsy yang mana jumlah daunnya sama banyak dengan bilangan makhluk yang Allah ciptakan. Jika satu makhluk itu telah diputuskan ajalnya, maka umurnya tinggal 40 hari dari hari yang diputuskan. Maka jatuhlah daun itu kepada Malaikat Maut, tahulah bahwa dia telah diperintahkan untuk mencabut nyawa orang yang tertulis pada daun tersebut. sampai ada daun dari pohon yang terletak di bawah 'Arsy gugur. Kemudian akan jatuh dua titisan dari arah 'Arsy pada daun tersebut, titisan hijau ataupun putih. Hijau menandakan bakal si mayat akan mendapat kecelakaan sementara putih mengambarkan dia akan mendapat kebahagiaan. Untuk mengetahui tempat makhluk mati, Allah telah menciptakan Malaikat Arham yang akan diperintahkan untuk memasuki sperma yang berada dalam rahim ibu dengan debu bumi yang akan diketahui di mana ia akan mati dan di situlah kelak ia pasti akan menemui ajalnya. Kisah Israiliyat tentang Malaikat Maut Pertanyaan para malaikat langit kepada Malaikat maut Disebutkan bahwa suatu ketika Allah SWT. memerintahkan malaikat maut untuk mencabut nyawa seorang pemuda kafir. Setelah mencabut nyawanya dan dibawa ke langit, beliau melewati serombongan malaikat dan mereka bertanya "Ya malaikat maut, kamu diberi tugas oleh Allah untuk mencabut nyawa mahluknya, apakah kamu tidak pernah sesekali merasa kasihan saat mencabut nyawa ?". Malaikat maut pun menjawab: "Iya sebenarnya aku pernah merasa iba, saat itu aku ditugaskan untuk mencabut nyawa seorang ibu yang baru melahirkan putranya di tengah hutan sendirian, aku merasa iba terhadap ibu karena harus berpisah dengan bayi tersebut dan meninggalkannya sendirian di tengah hutan dan aku merasa iba terhadap nasib bayi tersebut karena sendirian di tengah hutan". Para malaikat pun kembali bertanya: "Apakah kamu tau siapa roh yang baru saja kamu cabut ini ? dia adalah bayi dari ibu yang kamu ceritakan tadi". Mendengar hal ini, malaikat maut pun sujud kepada Allah SWT. dan berkata: "Ya Allah, hamba memohon ampun kepadaMu dan memohon terhindar dari makar-Mu. Karena sesungguhnya hanya Engkaulah yang maha berkehendak apakah seseorang hamba akan Engkau jadikan ahli surga atau ahli neraka."

Anqā

Kisah ʿ’ Menurut manuskrip kuno berupa teks Arab kuno dari Timur Tengah, legenda burung kolosal ini dikisahkan memiliki tubuh sangatlah besar, sehingga sanggup membawa seekor gajah dengan cakarnya yang tajam. Sumber-sumber kuno ini menjelaskan bahwa burung Anqaʾ pernah dipercaya sebagai makhluk mulia yang diciptakan oleh Tuhan. Al-Kisa'i mengisahkan bahwa burung ini tinggal di sebuah gunung tinggi yang bernama Gunung Falaj. Apabila burung itu terbang, maka ia sanggup menutup matahari seperti awan. Bulunya memiliki warna yang sangat banyak, lehernya seperti leher unta, memiliki empat sayap, dua panjang serta dua lagi ukurannya lebih pendek. Akhirnya, meskipun binatang ini mengambil peran yang menyenangkan dan ketika ia mulai sembarangan menangkap mangsa, burung tersebut mulai beralih memangsa manusia, khususnya anak-anak. Ketika hal itu sering terjadi Penduduk Rass melaporkan hal ini kepada Nabi Hanzhalah, Hanzhalah pun memohon do'a kepada Allah agar memusnahkan burung besar itu. Allah pun ternyata mengabulkan permintaan salah seorang nabinya, akhirnya burung besar tersebut terbakar hingga musnah semua keturunannya. Hal inilah yang menurut legenda Arab, mengapa Anqaʾ akhirnya menjadi punah. Makhluk ini juga memiliki banyak ciri-ciri yang sama dengan kisah phoenix yang mati terbakar, bedanya adalah phoenix kemudian dikisahkan lahir kembali setelah kematiannya melalu api. Sejarawan modern telah juga mencatat banyak kesamaan antara Anqaʾ dan apa yang dianggap sebagai burung paling terkenal yang pernah menguasai langit Arab, binatang berbulu raksasa yang dikenal sebagai Rukh (Roc).
ʿAnqā’ (Arab:العنقاء al-‘Anqā’, Baca: Anqoʾ) adalah seekor burung besar misterius dalam mitologi Islam. Burung itu disebutkan namanya dalam buku karya Zakariya al-Qazwini yang berjudul ʿAjā’ib al-Makhlūqāt wa-Gharā’ib al-Mawjūdāt (Makhluk-makhluk Ajaib dan Hal-hal Aneh yang Ada).
Burung raksasa ini pernah dikisahkan oleh al-Kisa’i, bahwa burung tersebut pernah ada pada zaman Nabi Hanzhalah dengan umatnya yang disebut Ashab ar-Rass, ia berhasil membunuh burung ini dengan cara meminta do'a kepada Tuhan untuk mematikan dan memutuskan keturunannya. Burung ini sering di identikkan dengan burung Simurgh dari Persia dan Phoenix dari Mesir kuno. Anqā’ memiliki arti 'berleher panjang'; ʿanq 'menjadi panjang di leher', dalam arti kalimat adjektif: langka, jarang, sulit untuk didapat atau ditemukan; indah, penasaran.

Dābbat ( دابة)

dalam Bahasa Arab yang berarti “binatang” atau “binatang buas (monster)”, berasal dari kata debbe, yang berarti berjuang, kata ini sering digunakan untuk binatang dan serangga. Sedangkan kalimat al-Ard (الأرض) berarti bumi. Namun makna secara bahasa, Dābbat al-Ard memiliki arti “Hewan bumi (tanah)” dalam bahasa Indonesia.
Dābbat al-Ard (Arab دابة الأرض‎) adalah sebuah frasa yang berarti binatang buas (monster) yang muncul dari perut bumi. Dalam Islam binatang ini sebagai salah satu tanda sebelum datangnya Hari Penghakiman. Binatang melata ini akan keluar di kota Mekah dekat gunung Shafa, setelah peristiwa Matahari terbit dari Barat, ia akan berbicara dengan kata-kata yang fasih dan jelas. Dabbat al-ard ini akan membawa tongkat Musa dan cincin Sulayman.
Wujud Ibnu Jurayj mengatakan bahwa Ibnu Zubair menjabarkan binatang ini dengan rinci, "Kepalanya seperti kepala kerbau, matanya seperti mata babi, telinganya seperti telinga gajah, tanduknya seperti tanduk rusa jantan, lehernya seperti leher burung unta, dadanya seperti dada singa, warna kulitnya seperti warna kulit harimau, panggulnya seperti panggul kucing, ekornya seperti ekor biri-biri jantan dan kakinya seperti kaki unta. Di antara sepasang persendiannya sejarak 12 ukuran garis lurus. Tugas Ibnu Jurayj mengatakan bahwa Ibnu Zubair menjabarkan, "Ia akan membawa tongkat Musa dan memakai cincin Sulaiman. Tiada tersisa bagi orang beriman yang tersisa tanpa membuat tanda putih diwajahnya, sehingga bersinarlah wajahnya dan tiada yang tersisa bagi orang kafir tanpa membuat tanda hitam diwajahnya, sehingga hitam legam keseluruh wajahnya. Ketika mereka sedang bertransaksi di pasar, mereka akan berkata, "Berapa harganya wahai orang beriman?" "Berapa harganya wahai orang kafir?" Sehingga ketika salah seorang dari anggota keluarga duduk makan bersama, mereka akan mengetahui siapa yang beriman dan yang kafir. Kemudian binatang itu berkata kepada orang beriman: "Wahai orang beriman, kalian akan berada di antara orang-orang penghuni Surga." dan berkata kepada orang kafir: "Wahai orang kafir, kalian akan berada di antara orang-orang penghuni Neraka." Sesuai dengan firman Allah dalam Surah An Naml: 82, “ ...Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami. (An Naml: 82) ” Abu Dawud at Tayalisi mencatat dari Abu Hurairah, Muhammad bersabda: "Binatang ini akan muncul dari perut bumi dan akan membawa tongkat Musa dan memakai cincin Sulaiman. Ia akan memukul hidung orang kafir dengan tongkat itu dan akan mengusap wajah orang beriman sehingga cerah dengan cincin itu. Sehingga mereka makan bersama, mereka akan saling mengenali orang yang beriman dan yang kafir." Juga kisah ini dicatat oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, "Binatang itu akan memukul hidung orang kafir dengan cicin dan akan dan akan mebuat wajah orang beriman menjadi cerah dengan tongkat, sehingga ketika mereka makan bersama, mereka akan berkata satu sama lainnya, "Wahai orang beriman" dan "Wahai orang kafir". Beberapa hadits juga mencatat seperti berikut, apabila binatang ini memukulkan tongkatnya ke dahi orang yang beriman, maka akan tertulislah di dahi orang itu ‘Ini adalah orang yang beriman’. Apabila tongkat itu dipukul ke dahi orang yang kafir, maka akan tertulislah ‘Ini adalah orang kafir’.

ARHAM

Kata Arham adalah bentuk jamak dari kata "rahim" (Arab: الرحم) yang memiliki arti kasih sayang, penyayang atau ampunan di dalam bahasa Indonesia.
Malaikat al-Arham (Arab: ملاك الأرحام) adalah para malaikat yang diserahi tugas untuk meniupkan ruh kedalam janin, mengatur rezeki, kematian, amal, sengsara atau kebahagiaan di dalam rahim. Malaikat Arham memiliki tugas meniupkan debu bumi kepada janin, dimana calon makhluk itu nanti akan tercabut nyawanya oleh Malaikat Maut.
Tugas Al-Arham Jika seorang hamba telah sempurna empat bulan di dalam perut ibunya, maka Allah akan mengutus malaikat kepadanya dan memerintahkannya untuk melaksanakan kesemua ketetapan yang telah ditulis oleh Allah di Lauh Mahfuzh. Dalam hadits Muhammad bersabda: "Allah mengutuskan Malaikat ke dalam rahim. Malaikat berkata: 'Wahai Tuhan!, ia masih berupa air mani'. Setelah beberapa ketika Malaikat berkata lagi: 'Wahai Tuhan!, ia sudah berupa darah beku'. Begitu juga setelah berlalu empat puluh hari Malaikat berkata lagi: 'Wahai Tuhan!, ia sudah berupa segumpal daging'. Apabila Allah membuat keputusan untuk menciptakannya menjadi manusia, maka Malaikat berkata: 'Wahai Tuhan!, orang ini akan diciptakan laki-laki atau perempuan? celaka atau bahagia? bagaimana rezekinya? serta bagaimana pula ajalnya?. Segala-galanya dicatat sewaktu dalam perut ibunya." Pada saat Sakrat al-Maut, Allah akan membukakan tabir yang menyelubungi pandangan seseorang sehingga akan menembus akhirat. Tercantum di dalam Al Qur'an surah Qaaf, yang berbunyi: “ Sehingga bagi orang mukmin, ketersingkapan penglihatan ini menambah ringan bebannya menempuh kematian, tetapi orang kafir justru akan semakin membuatnya berat dan sulit untuk melampaui tahapan kematian itu. (Qaaf 50:22) ”

ARSY

Arsy adalah bentuk mashdar dari kata kerja ‘arasya – ya‘risyu – ‘arsyan (عَرَشَ يَعْرِشُ عَرْشًا) yang berarti bangunan, singgasana, istana atau tahta. Di dalam Al-Quran, kata ‘Arsy itu disebut sebanyak 33 kali. Kata ‘Arsy mempunyai banyak makna, tetapi pada umumnya yang dimaksudkan adalah singgasana atau tahta Tuhan. Kemudian arti dari kata tersebut dipakai oleh bangsa Arab untuk menunjukkan beberapa makna, yaitu: Singgasana raja, tercantum dalam Surah An-Naml, 23. Atap rumah, tercantum dalam hadits Tiang dari sesuatu Kerajaan Bagian dari punggung kaki Inilah sebagian dari arti ‘Arsy dalam bahasa Arab, akan tetapi arti tersebut berubah-ubah sesuai dengan kalimat yang disandarinya. Seorang ulama yang bernama Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar menjelaskan bahwa ‘Arsy merupakan ”pusat pengendalian segala persoalan makhluk-Nya di alam semesta”. Penjelasan Rasyid Rida itu antara lain didasarkan pada Al Qur'an: “ ...kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy untuk mengatur segala urusan...(Yunus 10:3) ” Wujud 'Arsy Menurut manhaj salaf, 'Arsy memiliki wujud yang teramat sangat besar, memiliki beberapa tiang yang menjadikan 'Arsy sebagai atap alam semesta. Wujud ini dicatat dalam beberapa hadits-hadits yang shahih. Saking besarnya ada malaikat yang memiliki sayap banyak, diperintahkan oleh Tuhan untuk terbang kemana saja yang ia kehendaki dan ia merasa tidak beranjak dari tempat semula ia terbang. Allah berfirman kepada malaikat tersebut, "Sesungguhnya Aku telah menjadikan engkau memiliki kekuatan yang sebanding dengan kekuatan 7.000 malaikat." Malaikat itu diberikan 70.000 sayap. Kemudian, Allah menyuruh malaikat itu terbang. Malaikat itu pun terbang dengan kekuatan penuh dan sayap yang diberikan Allah ke arah mana saja yang dikehendaki Allah. Sesudah itu, malaikat tersebut berhenti dan memandang ke arah ‘Arsy. Tetapi, ia merasakan seolah-olah ia tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya terbang semula. Hal ini memperlihatkan betapa besar dan luasnya ‘Arsy Allah itu. “ 'Arsy yaitu singgasana yang memiliki beberapa tiang yang dipikul oleh para Malaikat. Ia menyerupai kubah bagi alam semesta. 'Arsy juga merupakan atap seluruh makhluk.” Nabi Muhammad bersabda: "Perumpamaan langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi seperti cincin yang dilemparkan di padang Sahara yang luas, dan keunggulan 'Arsy atas Kursi seperti keunggulan padang Sahara yang luas itu atas cincin tersebut." [sunting]Letak 'Arsy Menurut syariat Islam, 'Arsy terletak di atas surga Firdaus yang berada dilangit ke-7. Keyakinan ini bersumber dari salah satu hadits Muhammad. Muhammad bersabda kepada sahabatnya yang bernama Abu Hurairah “Apabila engkau memohon kepada Allah, maka mohon-lah kepada-Nya Surga Firdaus. Sesungguhnya ia (adalah) Surga yang paling utama dan paling tinggi. Di atasnya terdapat ‘Arsy Allah yang Maha Pengasih...” Masih diriwayatkan dari Ibnu Abi 'Ashim, Nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya ‘Arsy sebelumnya berada di atas air. Setelah Allah menciptakan langit (ke-7), ‘Arsy itu ditempatkan di langit yg ke-7. Dia jadikan awan sebagai saringan untuk hujan. Apabila tidak dijadikan seperti itu, tentu bumi akan tenggelam terendam air.” [sunting]Hamalat al-‘Arsy Para malaikat pemikul 'Arsy terkenal dengan nama Hamalat al-‘Arsy (Arab: حملة العرش) berjumlah empat malaikat, setelah kiamat akan bertambah menjadi delapan malaikat yaitu; Israfil, Mikail, Jibril, Izrail dan Hamalat al-‘Arsy. Didalam Al-Qur'an juga disebutkan para malaikat ini, dalam surah Al Haqqah 69 ayat 17: “ Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. (Al Haqqah, 69:17) ” Wujud Hamalat al-‘Arsy Berdasarkan hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud dari seorang sahabat Jabir bin Abdillah, wujud para malaikat pemikul singgahsana Allah sangatlah besar dan jarak antara pundak malaikat tersebut dengan telinganya sejauh perjalanan burung terbang selama 700 tahun. Dikatakan pula dalam hadits, bahwa Hamalat al-'Arsy memiliki sayap lebih besar dan banyak dibandingkan dengan Jibril dan Israfil. Dikatakan bahwa Hamalat al-'Arsy memiliki sayap sejumlah 2400 sayap dimana satu sayapnya menyamai 1200 sayap Israfil, sedangkan Israfil mempunyai 1200 sayap, dimana satu sayapnya menyamai 600 sayap Jibril. Sedangkan Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar bin 'Arabi Al-Jawi Al-Bantani, seorang wali besar dari tanah Jawa, mengatakan bahwa, "Mereka adalah tingkatan tertinggi para Malaikat dan Malaikat yang pertama kali diciptakan, dan mereka berada di dunia sebanyak 4 malaikat, pada saat qiyamat akan berjumlah 8 malaikat dengan bentuk kambing hutan. Jarak antara telapak kakinya sampai lututnya sejauh perjalanan 70 tahun burung yang terbang paling cepat. Adapun sifat dari 'Arsy, dikatakan bahwa bahwa 'Arsy adalah permata berwarna hijau dan 'Arsy adalah makhluk yang paling besar dalam penciptaan. Dan setiap harinya 'Arsy dihiasi dengan 1000 warna daripada cahaya, tidak ada satu makhlukpun dari makhluk Allah ta'ala yang sanggup memandangnya.. Dan segala sesuatu seluruhnya di dalam 'Arsy seperti lingkaran ditanah lapang...Dikatakan sesungguhnya 'Arsy merupakan kiblat para penduduk langit.. sebagaimana Ka'bah sebagai kiblat penduduk bumi..." Perbedaan Pendapat Tentang 'Arsy Di dalam perbincangan para ulama tradisional dengan ulama kontemporer dan modern, mereka masing-masing memiliki perbedaan pendapat dalam menafsirkan istilah 'Arsy ini. Mereka memperdebatkan apakah 'Arsy itu suatu nonmateri (nonfisik) atau materi (fisik). Para ulama tradisional lebih menyukai memahami 'Arsy sebagai suatu singgasana, dimana dari singgasana-Nya inilah Tuhan mengendalikan kekuasaan-Nya atas makhluk-makhluk-Nya, namun ulama-ulama tersebut juga lebih suka untuk tidak melakukan pembahasan lebih jauh mengenainya dan hanya mencukupkan urusannya kepada iman dan itu menjadi rahasia Allah saja. Sejumlah ulama lain yang lebih moderat menolak penafsiran 'Arasy seperti yang telah disebutkan di atas tadi, karena menurut mereka Allah tidak membutuhkan tempat, ruangan dan juga tidak terikat dengan waktu. Jika dikatakan bahwa Allah duduk di atas 'Arsy maka berarti Allah memiliki wujud yang sama seperti makhluk-Nya yang memerlukan tempat tinggal dan tempat bernaung, padahal Allah Maha Suci dan Maha Mulia dari semua itu. Dalam penafsiran 'Arsy oleh para ulama ini, maka bisa digolongkan menjadi tiga pendapat yang berbeda, yaitu: Mu'tazilah Berpendapat bahwa kata ‘Arsy di dalam al-Quran harus diartikan dan dipahami sebagai makna metaforis (majazi). Jika dikatakan Tuhan bersemayam di ‘Arsy, maka arti ‘Arsy di sini adalah kekuasaan Tuhan. Tuhan merupakan zat yang nonmateri, karenanya mustahil Dia berada pada tempat yang bersifat materi. Mujassimah Berpendapat golongan ini bertolak belakang dengan pendapat pertama. Menurut mereka, kata ‘Arsy harus dipahami sebagaimana adanya. Karena itu, mereka mengartikan ‘Arsy sebagai sesuatu yang yang bersifat fisik atau materi. Mereka memiliki paham antropomorfisme. Asy'ariyah Berpendapat yang menyatakan bahwa ‘Arsy dalam arti tahta atau singgasana harus diyakini keberadaannya, karena Al-Quran sendiri mengartikan demikian adanya. ‘Arsy (Bahasa Arab عَرْش, ‘Arasy) adalah makhluk tertinggi, berupa singgasana seperti kubah yang memiliki tiang-tiang yang dipikul oleh para Malaikat. Pengertian ‘Arsy ini yang diyakini oleh para manhaj Salaf, berdasarkan Al Qur'an dan hadits Muhammad, sesuai dengan ayat: “ (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas 'Arsy.(Thaha, 20:5) ”