5 Juli 2011

PRABU SILIWANGI



Di Jawa Barat Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Nama Siliwangi sudah tercatat dalam Kropak 630 sebagai lakon pantun. Naskah itu ditulis tahun 1518 ketika Sri Baduga masih hidup. Lakon Prabu Siliwangi dalam berbagai versinya berintikan kisah tokoh ini menjadi raja di Pakuan. Peristiwa itu dari segi sejarah berarti saat Sri Baduga mempunyai kekuasaan yang sama besarnya dengan Wastu Kancana (kakeknya) alias Prabu Wangi (menurut pandangan para pujangga Sunda).

Menurut tradisi lama. orang segan atau tidak boleh menyebut gelar raja yang sesungguhnya, maka juru pantun mempopulerkan sebutan Siliwangi. Dengan nama itulah ia dikenal dalam literatur Sunda. Wangsakerta pun mengungkapkan bahwa Siliwangi bukan nama pribadi, ia menulis:

"Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira".

Indonesia: Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya.

Masa muda

Waktu mudanya Sri Baduga terkenal sebagai kesatria pemberani dan tangkas bahkan satu-satunya yang pernah mengalahkan Ratu Japura (Amuk Murugul) waktu bersaing memperbutkan Subanglarang (istri kedua Prabu Siliwangi yang beragama Islam). Dalam berbagai hal, orang sejamannya teringat kepada kebesaran mendiang buyutnya (Prabu Maharaja Lingga Buana) yang gugur di Bubat yang digelari Prabu Wangi.

Tentang hal itu, Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/2 mengungkapkan bahwa orang Sunda menganggap Sri Baduga sebagai pengganti Prabu Wangi, sebagai silih yang telah hilang. Naskahnya berisi sebagai berikut (artinya saja):

"Di medan perang Bubat ia banyak membinasakan musuhnya karena Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang, tidak mau negaranya diperintah dan dijajah orang lain.

Ia berani menghadapi pasukan besar Majapahit yang dipimpin oleh sang Patih Gajah Mada yang jumlahnya tidak terhitung. Oleh karena itu, ia bersama semua pengiringnya gugur tidak tersisa.

Ia senantiasa mengharapkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya di seluruh bumi Jawa Barat. Kemashurannya sampai kepada beberapa negara di pulau-pulau Dwipantara atau Nusantara namanya yang lain. Kemashuran Sang Prabu Maharaja membangkitkan (rasa bangga kepada) keluarga, menteri-menteri kerajaan, angkatan perang dan rakyat Jawa Barat. Oleh karena itu nama Prabu Maharaja mewangi. Selanjutnya ia di sebut Prabu Wangi. Dan keturunannya lalu disebut dengan nama Prabu Siliwangi. Demikianlah menurut penuturan orang Sunda".

Perang Bubat

Kesenjangan antara pendapat orang Sunda dengan kenyataan sejarah seperti yang diungkapkan di atas mudah dijajagi. Pangeran Wangsakerta, penanggung jawab penyusunan Sejarah Nusantara, menganggap bahwa tokoh Prabu Wangi adalah Maharaja Linggabuana yang gugur di Bubat, sedangkan penggantinya ("silih"nya) bukan Sri Baduga melainkan Wastu Kancana (kakek Sri Baduga, yang menurut naskah Wastu Kancana disebut juga Prabu Wangisutah).

Nah, orang Sunda tidak memperhatikan perbedaan ini sehingga menganggap Prabu Siliwangi sebagai putera Wastu Kancana (Prabu Anggalarang). Tetapi dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahwa Niskala Wastu Kancana itu adalah "seuweu" Prabu Wangi. Mengapa Dewa Niskala (ayah Sri Baduga) dilewat? Ini disebabkan Dewa Niskala hanya menjadi penguasa Galuh. Dalam hubungan ini tokoh Sri Baduga memang penerus "langsung" dari Wastu Kancana. Menurut Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara II/4, ayah dan mertua Sri Baduga (Dewa Niskala dan Susuktunggal) hanya bergelar Prabu, sedangkan Jayadewata bergelar Maharaja (sama seperti kakeknya Wastu Kancana sebagai penguasa Sunda-Galuh).

Dengan demikian, seperti diutarakan Amir Sutaarga (1965), Sri Baduga itu dianggap sebagai "silih" (pengganti) Prabu Wangi Wastu Kancana (oleh Pangeran Wangsakerta disebut Prabu Wangisutah). "Silih" dalam pengertian kekuasaan ini oleh para pujangga babad yang kemudian ditanggapi sebagai pergantian generasi langsung dari ayah kepada anak sehingga Prabu Siliwangi dianggap putera Wastu Kancana.

Kebijakan Sri Baduga dan Kehidupan Sosial

Tindakan pertama yang diambil oleh Sri Baduga setelah resmi dinobatkan jadi raja adalah menunaikan amanat dari kakeknya (Wastu Kancana) yang disampaikan melalui ayahnya (Ningrat Kancana) ketika ia masih menjadi mangkubumi di Kawali. Isi pesan ini bisa ditemukan pada salah satu prasasti peninggalan Sri Baduga di Kebantenan. Isinya sebagai berikut (artinya saja):

Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi Rahyang Niskala Wastu Kancana. Turun kepada Rahyang Ningrat Kancana, maka selanjutnya kepada Susuhunan sekarang di Pakuan Pajajaran. Harus menitipkan ibukota di Jayagiri dan ibukota di Sunda Sembawa.

Semoga ada yang mengurusnya. Jangan memberatkannya dengan "dasa", "calagra", "kapas timbang", dan "pare dongdang".

Maka diperintahkan kepada para petugas muara agar jangan memungut bea. Karena merekalah yang selalu berbakti dan membaktikan diri kepada ajaran-ajaran. Merekalah yang tegas mengamalkan peraturan dewa.

Dengan tegas di sini disebut "dayeuhan" (ibukota) di Jayagiri dan Sunda Sembawa. Penduduk kedua dayeuh ini dibebaskan dari 4 macam pajak, yaitu "dasa" (pajak tenaga perorangan), "calagra" (pajak tenaga kolektif), "kapas timbang" (kapas 10 pikul) dan "pare dondang" (padi 1 gotongan). Dalam kropak 630, urutan pajak tersebut adalah dasa, calagra, "upeti", "panggeureus reuma".

Dalam koropak 406 disebutkan bahwa dari daerah Kandang Wesi (sekarang Bungbulang, Garut) harus membawa "kapas sapuluh carangka" (10 carangka = 10 pikul = 1 timbang atau menurut Coolsma, 1 caeng timbang) sebagai upeti ke Pakuan tiap tahun. Kapas termasuk upeti. Jadi tidak dikenakan kepada rakyat secara perorangan, melainkan kepada penguasa setempat.

"Pare dondang" disebut "panggeres reuma". Panggeres adalah hasil lebih atau hasil cuma-cuma tanpa usaha. Reuma adalah bekas ladang. Jadi, padi yang tumbuh terlambat (turiang) di bekas ladang setelah dipanen dan kemudian ditinggalkan karena petani membuka ladang baru, menjadi hak raja atau penguasa setempat (tohaan). Dongdang adalah alat pikul seperti "tempat tidur" persegi empat yang diberi tali atau tangkai berlubang untuk memasukan pikulan. Dondang harus selalu digotong. Karena bertali atau bertangkai, waktu digotong selalu berayun sehingga disebut "dondang" (berayun). Dondang pun khusus dipakai untuk membawa barang antaran pada selamatan atau arak-arakan. Oleh karena itu, "pare dongdang" atau "penggeres reuma" ini lebih bersifat barang antaran.

Pajak yang benar-benar hanyalah pajak tenaga dalam bentuk "dasa" dan "calagra" (Di Majapahit disebut "walaghara = pasukan kerja bakti). Tugas-tugas yang harus dilaksanakan untuk kepentingan raja diantaranya : menangkap ikan, berburu, memelihara saluran air (ngikis), bekerja di ladang atau di "serang ageung" (ladang kerajaan yang hasil padinya di peruntukkan bagi upacara resmi).

Dalam kropak 630 disebutkan "wwang tani bakti di wado" (petani tunduk kepada wado). Wado atau wadwa ialah prajurit kerajaan yang memimpin calagara. Sistem dasa dan calagara ini terus berlanjut setelah jaman kerajaan. Belanda yang di negaranya tidak mengenal sistem semacam ini memanfaatkanna untuk "rodi". Bentuk dasa diubah menjadi "Heerendiensten" (bekerja di tanah milik penguasa atau pembesar). Calagara diubah menjadi "Algemeenediensten" (dinas umum) atau "Campongdiesnten" (dinas Kampung) yang menyangkut kepentingan umum, seperti pemeliharaan saluran air, jalan, rumah jada dan keamanan. Jenis pertama dilakukan tanpa imbalan apa-apa, sedangkan jenis kedua dilakuan dengan imbalan dan makan. "Preangerstelsel" dan "Cultuurstelsel" yang keduanya berupa sistem tanam paksa memanfaatkan tradisi pajak tenaga ini.

Dalam akhir abad ke-19 bentuknya berubah menjadi "lakon gawe" dan berlaku untuk tingkat desa. Karena bersifat pajak, ada sangsi untuk mereka yang melalaikannya. Dari sinilah orang Sunda mempunyai peribahasa "puraga tamba kadengda" (bekerja sekedar untuk menghindari hukuman atau dendaan). Bentuk dasa pada dasarnya tetap berlangsung. Di desa ada kewajiban "gebagan" yaitu bekerja di sawah bengkok dan ti tingkat kabupaten bekerja untuk menggarap tanah para pembesar setempat.

Jadi "gotong royong tradisional berupa bekerja untuk kepentingan umum atas perintah kepala desa", menurut sejarahnya bukanlah gotong royong. Memang tradisional, tetapi ide dasarnya adalah pajak dalam bentuk tenaga. Dalam Pustaka Jawadwipa disebut karyabhakti dan sudah dikenal pada masa Tarumanagara dalam abad ke-5.

Piagam-piagam Sri Baduga lainnya berupa "piteket" karena langsung merupakan perintahnya. Isinya tidak hanya pembebasan pajak tetapi juga penetapan batas-batas "kabuyutan" di Sunda Sembawa dan Gunung Samaya yang dinyatakan sebagai "lurah kwikuan" yang disebut juga desa perdikan, desa bebas pajak.

Gelar "Sripaduka" ( Sri Baduga ) pada zaman Pajajaran Nagara disandang oleh 3 tokoh : 1. Wastukancana / Rd. Pitara Wangisuta / SRI PADUKA MAHARAJA PRABU GURU DEWATA PURANA RATU HAJI DI PAKUAN PAJAJARAN SANG RATU KARANTEN ( KARA ANTEN ) RAKEYAN LAYARAN WANGI /SUNAN RUMENGGONG (RAMA HYANG AGUNG ) adik dari Dyah Pitaloka Citraresmi anak dari Rd. Kalagemet /Jayanagara II / Raja Sundayana di Galuh /Ratu Galuh di Panjalu / Maharaja Prabu Wangi dan merangkap Wali Nagari Hujung Galuh ( Majapahit-Pajajaran Wetan / Jawa Pawatan / Galuh - menjadi wali sang kakak Linggabuana/Jayanagara I/Maharaja Prabu Diwastu ayah dari Hayam Wuruk /Hyang Warok /Rd. Inu Kertapati /Susuk Tunggal /Prabumulih /Prabu Seda Keling /Sang Haliwungan /Pangeran Boros Ngora/Ra- Hyang Kancana )gugur pada "PERANG BUBAT" dalam pertempuran yang tidak "FAIR" atas "REKAYASA" Gajah Mada / Guan Eng Cu dan Nangganan /Ki Ageng Muntalarasa /Syekh BEN TONG!!!!,dengan cara dibokong dan di keroyok !!!

2. Mundinglayadikusumah / Rd. Samadullah Surawisesa Mundinglayadikusumah/SRI PADUKA MAHARAJA PRABU GURU GANTANGAN SANG SRI JAYA DEWATA /KEBO KENONGO /ARYA KUMETIR /RD.KUMETIR /KI AGENG PAMANAH RASA / SUNAN PAGULINGAN anak dari LINGGA HYANG / LINGGA WESI / HYANG BUNI SWARA /SRI SANGGRAMAWIJAYA TUGGAWARMAN /MAHAPATI ANAPAKEN ( MENAK PAKUAN )/ RD. H. PURWA ANDAYANINGRAT / SUNAN GIRI /HYANG TWAH / BATARA GURU NISKALAWASTU DI JAMPANG

3. MUNDINGWANGI/ SRI PADUKA MAHARAJA PRABU GURU DEWATAPRANA SANG PRABU GURU RATU DEWATA anak dari Wastukancana.



Rakeyan Mundinglaya

SILIWANGI I Rd. Samadullah Surawisesa Mundinglayadikusumah Sri Paduka Maharaja Prabu Guru Gantangan Sang Sri Jaya Dewata / Ki Ageng Pamanah Rasa / Sunan Pagulingan / Kebo Kenongo / Rd. Kumetir / Layang Kumetir


Rakeyan Mundingwangi

SILIWANGI II Rd.Salalangu Layakusumah Sri Paduka Maharaja Prabu Guru Dewata Prana Sang Prabu Guru Ratu Dewata / Kebo Anabrang ?

Rakeyan Mundingsari /Mundingkawati

SILIWANGI III Tumenggung Cakrabuana Wangsa Gopa Prana Sang Prabu Walangsungsang Dalem Martasinga Syekh Rachmat Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati I Ki Ageng Pamanahan / Kebo Mundaran ?

Peristiwa-peristiwa di masa pemerintahannya

Beberapa peristiwa menurut sumber-sumber sejarah:

[sunting] Carita Parahiyangan

Dalam sumber sejarah ini, pemerintahan Sri Baduga dilukiskan demikian :

"Purbatisi purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. Suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dina urang reya, ja loba di sanghiyang siksa".

(Ajaran dari leluhur dijunjung tinggi sehingga tidak akan kedatangan musuh, baik berupa laskar maupun penyakit batin. Senang sejahtera di utara, barat dan timur. Yang tidak merasa sejahtera hanyalah rumah tangga orang banyak yang serakah akan ajaran agama).

Dari Naskah ini dapat diketahui, bahwa pada saat itu telah banyak Rakyat Pajajaran yang beralih agama (Islam) dengan meninggalkan agama lama.

RAKEYAN MUNDINGSARI/MUNDINGKAWATI/TUMENGGUNG CAKRABUWANA WANGSA GOPA PRANA SANG PRABU WALANGSUNGSANG/DALEM MARTASINGA /SYEKH RACHMAT SYARIF HIDAYATULLAH SUNAN GUNUNG JATI I /KEBO ANABRANG ? SILIWANGI III /SUNAN RACHMAT adalah anak dari Hyang Warok / Susuk Tunggal /Sang Haliwungan

Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I sarga 2.

Naskah ini menceritakan, bahwa pada tanggal 12 bagian terang bulan Caitra tahun 1404 Saka, Syarif Hidayat menghentikan pengiriman upeti yang seharusnya di bawa setiap tahun ke Pakuan Pajajaran. [Syarif Hidayat masih cucu Sri Baduga dari Lara Santang. Ia dijadikan raja oleh uanya (Pangeran Cakrabuana) dan menjadi raja merdeka di Pajajaran di Bumi Sunda (Jawa Barat)]

Ketika itu Sri Baduga baru saja menempati istana Sang Bhima (sebelumnya di Surawisesa). Kemudian diberitakan, bahwa pasukan Angkatan Laut Demak yang kuat berada di Pelabuhan Cirebon untuk menjada kemungkinan datangnya serangan Pajajaran.

Tumenggung Jagabaya beserta 60 anggota pasukannya yang dikirimkan dari Pakuan ke Cirebon, tidak mengetahui kehadiran pasukan Demak di sana. Jagabaya tak berdaya menghadapi pasukan gabungan Cirebon-Demak yang jumlahnya sangat besar. Setelah berunding, akhirnya Jagabaya menghamba dan masuk Islam.

Peristiwa itu membangkitkan kemarahan Sri Baduga. Pasukan besar segera disiapkan untuk menyerang Cirebon. Akan tetapi pengiriman pasukan itu dapat dicegah oleh Purohita (pendeta tertinggi) keraton Ki Purwa Galih. [Cirebon adalah daerah warisan Cakrabuana (Walangsungsang) dari mertuanya (Ki Danusela) dan daerah sekitarnya diwarisi dari kakeknya Ki Gedeng Tapa (Ayah Subanglarang).

Cakrabuana sendiri dinobatkan oleh Sri Baduga (sebelum menjadi Susuhunan) sebagai penguasa Cirebon dengan gelar Sri Mangana. Karena Syarif Hidayat dinobatkan oleh Cakrabuana dan juga masih cucu Sri Baduga, maka alasan pembatalan penyerangan itu bisa diterima oleh penguasa Pajajaran].

Demikianlah situasi yang dihadapi Sri Baduga pada awal masa pemerintahannya. Dapat dimaklumi kenapa ia mencurahkan perhatian kepada pembinaan agama, pembuatan parit pertahanan, memperkuat angkatan perang, membuat jalan dan menyusun PAGELARAN (formasi tempur). [Pajajaran adalah negara yang kuat di darat, tetapi lemah di laut.

Menurut sumber Portugis, di seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki kira-kira 100.000 prajurit. Raja sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor. Di laut, Pajajaran hanya memiliki enam buah Kapal Jung 150 ton dan beberaa lankaras (?) untuk kepentingan perdagangan antar-pulaunya (saat itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000 ekor/tahun)].

Keadaan makin tegang ketika hubungan Demak-Cirebon makin dikukuhkan dengan perkawinan putera-puteri dari kedua belah pihak. Ada empat pasangan yang dijodohkan, yaitu :

1. Pangeran Hasanudin dengan Ratu Ayu Kirana (Purnamasidi).
2. Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor.
3. Pangeran Jayakelana dengan Ratu Pembayun.
4. Pangeran Bratakelana dengan Ratu Ayu Wulan (Ratu Nyawa).

Perkawinan Pangeran Sabrang Lor alias Yunus Abdul Kadir dengan Ratu Ayu terjadi 1511. Sebagai Senapati Sarjawala, panglima angkatan laut, Kerajaan Demak, Sabrang Lor untuk sementara berada di Cirebon.

Persekutuan Cirebon-Demak inilah yang sangat mencemaskan Sri Baduga di Pakuan. Tahun 1512, ia mengutus putera mahkota Surawisesa menghubungi Panglima Portugis Alfonso d'Albuquerque di Malaka (ketika itu baru saja gagal merebut Pelabuhan Pasai atau Samudra Pasai). Sebaliknya upaya Pajajaran ini telah pula meresahkan pihak Demak.

Pangeran Cakrabuana dan Susuhunan Jati (Syarif Hidayat) tetap menghormati Sri Baduga karena masing-masing sebagai ayah dan kakek. Oleh karena itu permusuhan antara Pajajaran dengan Cirebon tidak berkembang ke arah ketegangan yang melumpuhkan sektor-sektor pemerintahan. Sri Baduga hanya tidak senang hubungan Cirebon-Demak yang terlalu akrab, bukan terhadap Kerajaan Cirebon. Terhadap Islam, ia sendiri tidak membencinya karena salah seorang permaisurinya, Subanglarang, adalah seorang muslimah dan ketiga anaknya -- Walangsungsang alias Cakrabuana, Lara Santang, dan Raja Sangara -- diizinkan sejak kecil mengikuti agama ibunya (Islam).

Karena permusuhan tidak berlanjut ke arah pertumpahan darah, maka masing masing pihak dapat mengembangkan keadaan dalam negerinya. Demikianlah pemerintahan Sri Baduga dilukiskan sebagai jaman kesejahteraan (Carita Parahiyangan). Tome Pires ikut mencatat kemajuan jaman Sri Baduga dengan komentar "The Kingdom of Sunda is justly governed; they are true men" (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil; mereka adalah orang-orang jujur).

Juga diberitakan kegiatan perdagangan Sunda dengan Malaka sampai ke kepulauan Maladewa (Maladiven). Jumlah merica bisa mencapai 1000 bahar (1 bahar = 3 pikul) setahun, bahkan hasil tammarin (asem) dikatakannya cukup untuk mengisi muatan 1000 kapal.

Naskah Kitab Waruga Jagat dari Sumedang dan Pancakaki Masalah karuhun Kabeh dari Ciamis yang ditulis dalam abad ke-18 dalam bahasa Jawa dan huruf Arab-pegon masih menyebut masa pemerintahan Sri Baduga ini dengan masa gemuh Pakuan (kemakmuran Pakuan) sehingga tak mengherankan bila hanya Sri Baduga yang kemudian diabadikan kebesarannya oleh raja penggantinya dalam jaman Pajajaran.

Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi yang dalam Prasasti Tembaga Kebantenan disebut Susuhuna di Pakuan Pajajaran, memerintah selama 39 tahun (1482 - 1521). Ia disebut secara anumerta Sang Lumahing (Sang Mokteng) Rancamaya karena ia dipusarakan di Rancamaya.( diambil dari wikipedia -18/11-2008 )


SALAKA DOMAS
Tandang menak Pajajaran
Kadiya banteng bayangan
Sinatria pilih tanding
Tohpati jiwa jeung raga
Seja angkat mapag jurit

Najan di luhur langit
Hamo burung rek disusul
Sumujud ka ingkang rama
Prabu Agung Silihwangi
Layang domas layang domas
didamel jimat nolak bala

Sinatria Pajajaran
Putra silih Silihwangi
Estu panceg mamanahan
Seja moal waka mulih

Najan nemahan pati
Mun guriang tacan tumpur
Ngesto ka ibu ka rama
Sumambat ka Maha Suci
Teguh pengkug teguh pengkuh,
henteu unggut kalinduan.-

Tulisan / Kiriman : ICANG S TISNAMIHARJA

=================================================
ASAL-USUL JAWA ( SUNDA ) 1

Babad dimulai dengan mengisahkan adanya pulau kosong yang ditumbuhi rumputan. Penghuninya hanyalah dewa kayu dan dewa batu. Asal mulanya ada manusia di pulau Jawa, adalah karena seorang raja menikahi puteri raja Mesir yang bernama Sri Putih. Raja dan isterinya lalu menetap di pulau kosong tersebut dengan membawa seribu orang Mesir dan seribu orang Selan. Mereka membawa benih Juwawut atau Jawawut dan ditanam untuk makanan di pulau kosong itu. Itulah sebabnya pulau kosong itu kemudian dinamakan pulau Jawa, berasal dari jawawut.

Raja dan isterinya mendirikan kerajaan di pulau Jawa, di Medang Kamulan, karena negeri itu bertanda gunung Medang Kamulan. Penduduknya bertambah dari dua ribu menjadi sepuluh ribu. Kerajaan dipindahkan dari Medang Kamulan ke Gunung Kidul, di tempat yang lebih tinggi. Kemudian pindah lagi ke Ngadon Ijo, pindah lagi ke Lodaya, pindah lagi ke Roban, pindah lagi ke Lombok, dan akhirnya pindah lagi ke Medang Agung, yakni Galuh yang sebenarnya.
Pada waktu itu rakyatnya telah berjumlah delapan belas ribu orang. Negara-negara yang ditinggalkan tersebut tak diceritakan lagi, karena dihuni oleh para siluman dan bangsa bunian ( roh halus?).

Ingatan kolektif yang samar-samar dari masyarakat Sunda tentang asal-usulnya ini, menyiratkan adanya dua kelompok masyarakat, yakni Sunda-ladang da kemudian Sunda-sawah. Apakah kondisi ini terjadi sebelum atau sesudah kedatangan “ Orang Mesir” ( Islam ) dan “Orang Selan”( India, Hindu), tidak jelas. Pengetahuan kita zaman sekarang menyebutkan bahwa Mesir dan India mengenal persawahan. Ini
menunjukkan keyakinan kuat mereka bahwa sejak awal masyarakat Sunda ini sudah Islam, meskipun tercampur juga dengan agama-agama India.

BABAD PAJAJARAN

Kemudian diceritakan tentang kerajaan Medang Agung Galuh atau Bojong Galuh, waktu itu Galuh terserang wabah, kecuali desa Cibungur. Desa itu tak terkena wabah karena saran seorang pendeta di Gunung Sirata. Begawan itu menganjurkan kepada penyumpit yang mematuhi perintah Begawan agar tak menyumpit burung disitu, sehingga ia menganjurkan kepada penyumpit untuk menyemburkan kunyahan sirih dan menanam daun sirih di desanya apabila wabah menyerang Negara.

Raja Galuh mendengar cerita itu menyuruh patihnya memanggil Begawan, tetapi tak mau datang. Raja marah dan menyuruh bunuh Begawan. Orang tua itu tak mempan segala senjata, dan atas kemauannya sendiri ia rela ditikam. Begawan itu mati di Gunung Padang, tetapi darahnya berubah menjadi air dan menimbulkan aliran sungai Cilawukung yang mengalir ke nusa Kalapa atau kali Jakarta.

Isteri Raja Galuh mengandung. Dalam mimpi, raja mendengar suara bahwa isi perut permaisurinya adalah penjelmaan Begawan yang ia suruh bunuh. Raja kemudian memanggil putera mahkota, Aria Bangga. Raja menyerahkan Negara kepadanya, karena ia hendak bertapa. Ketika kandungan permaisuri telah tiba waktunya, lahirlah seorang bayi lelaki yang tampan. Bayi lalu dibuang ke sungai. Bayi ditemukan oleh Aki dan Nyai Balangantrang, dan dibesarkannya ( pantun Ciung Wanara ).

Bayi yang dipelihara Aki Balangantrang itu memang dinamai Ciung Wanara. Ketika dewasa, berebut Negara dengan kakaknya, Aria Banga.Keduanya berperang, sama-sama kuat dan saktinya. Tak ada yang menang dan tak ada yang kalah. Keduanya ingat kata-kata ayah mereka, bahwa perang dengan saudara itu pamali.

Maka Negara dibagi dua, sebelah barat ( Jawa bagian Barat ) diperintah oleh Ciung Wanara, sedang Jawa bagian Timur diperintah oleh Aria Banga. Batas kedua Negara adalah sungai Cipamali, yang semula bernama sungai Cintamanis.
Tafsir atas bagian ini menyiratkan pemahaman Jawa dan Sunda itu sebagai saudara selaku Kakak dan adik. Kata raja Galuh, “perang dengan saudara “ itu pamali. Yang tua dari keturunan Galuh memerintah Jawa ( Majapahit ), sedang yang muda dari keturunan Galuh memerintah Sunda ( Pajajaran )

Cerita selanjutnya dimulai dengan Prabu Siliwangi dan puteranya Guru Gantangan, yang memakan tiga perempat abad!

PRABU SILIWANGI

PRABU SILIWANGI raja Pajajaran, beristeri padmi tiga orang, yakni Rajamantri atau Rembang Sari Dewata atau Ambetkasih dari Sumedang lama, Marajalarang Tapa dari Cirebon Girang, dan Kentring Manik Mayang Sunda dari Nusa Bima yang melahirkan Guru Gantangan di Sindang Barang. Di samping itu, Prabu Siliwangi juga masih mempunyai 150 isteri yang lain.

Yang menjadi Mentri Agung ialah Kyan Murugul atau Surabima Panji Wirajaya, kakak Rajamantri. Yang menjadi Patih adalah kakak Marajalarang, Ramacunta Tuan Paksajati. Yang menjadi penasehat, antara lain Begawan Bramanasakti,”orang seberang”.

Jumlah kakak ipar raja ada 13 orang, putranya 75 orang. Pada suatu hari raja sedang duduk di sitinggil ( siti hinggil ) didampingi Raden Ayu Rajamantri dan Marajalarang,isteri-isteri yang lain, para dayang, dan selir. Raja duduk di atas kasur berwarna hitam berukiran naga sepasang, berguling majeti keeling, tilam duduknya dari sutera. Karena mengantuk, raja berbaring, diselimuti Rajamatri. Dalam tidurnya, raja bermimpi bertemu dengan seorang putri cantik molek dan muda, Ratna Inten,” di Pakuan tak ada yang seperti itu, di bumi Jawa tak ada tolok bandingnya”.Ketika bangun, “ tatkala tabuh berbunyi,kebetulan hari jum’at”,raja amat rindu kepayang kepada putrid impiannya itu, dan pingsan tak sadarkan diri.
Setelah sadar, raja masih terbayang Ratna Inten yang”lehernya jenjang,wajah berbentuk ulasan durian,sanggul malang, dan jari-jarinya mendaun suji”. Diumumkan kepada kakak-kakak iparnya, putera-puteranya, para ponggawa, rangga kaduruhan, aria rangga, tumenggung, demang, dan ngabehi, bahwa barang siapa dapat mencari dan mewujudkan impian raja akan diberi sebahagian Negara.Namun tak seorang pun menyanggupi.

Prabu Siliwangi baru mempunyai tiga padminya,dan yang keempat ditemukan dalam mimpi. Kalau Ratna Inten ditemukan, maka genaplah mandala isteri-isteri utama raja, yakni empat isteri utama yang mengitarinya di keempat sudut ruang semesta Sunda. Sedangkan jumlah 150 isteri-isterinya yang lain, dapat berarti isteri-isteri mancapat kalimo pancer ( mandala ) dari 30 daerah kekuasaannya. Setiap daerah kekuasaannya merupakan satuan mandala, yang masing-masing sudut mandala dan pusatnya mengirimkan pasangan-sakti raja ke raja pusat mandala besar. Dari lambing-lambang ini, ingin dinyatakan bahwa wilayah kekuasaan Prabu Siliwangi waktu itu meliputi 30 negara. Pusat mandala besarnya adalah Raja di pusat Negara, yakni Pakuan.Tafsir modern bahwa Raja Siliwangi beristeri begitu banyak, dengan demikian memerosotkan wibawanya sebagai “ raja yang maniak seksual”, hendaknya dikesampingkan. Isteri-isteri raja yang 150 lebih bermakna simbolik kekuasaan berkonsep mandala.Atau 150 isteri-isterinya itu lebih berarti isteri de jure dari pada de facto.

Dengan merekonstruksi kembali cara hidup nenek moyang ini, kita juga dapat memahami mengapa keadaan masyarakat sekarang seperti yang kita warisi. Selama ini kita selalu sinis terhadap kebiasaan hidup masyarakat perdesaan, di mana ketidak sadaran kolektif masa lampau ini masih hidup, dan menilainya sebagai takhayul dan ketinggalan zaman ( hal XVI ).

1 & ( XVI ) Dikutip dari :HERMENEUTIKA SUNDA Simbol-Simbol Babad Pakuan / Guru Gantangan oleh JAKOB SUMARDJO,Cetakan pertama, Februari 2004 ISBN 979-97717-1-4, hal XVI.-

1 komentar:

Yogi Marsahala mengatakan...

Prabu Siliwangi memang sakti