18 Juni 2011

BUNGA RAMPAI MISTIKUS



Dalam katalog historis setiap agama selalu dihiasi aneka rupa warna-warni aktualitas perjalanannya. Belum lagi yang diimbuhi dengan latar belakang budaya masing-masing wilayah penyebar dan tempat penyebarannya..
Dan yang banyak meninggalkan pesona ketakterhinggaan adalah katalog para mistikusnya. Yang salah satu kaji bagiannya tidak jarang dijadikan sebagai bahan diskursif antar personal maupun kelompok. Terkadang menjadi bagian argumentatif perenungan bagi sebagian orang. Lebih-lebih dengan pola analistik saat ini dimana orang lebih cenderung terpaku dalam persemayaman yang disebut ‘Rumah Materialistik’.
Seperti halnya dalam hagiografi spiritualis Islam, Tasawuf, Sufistik.
bahwa rasa-perasaan wilayah ini tidak menarik perhatian manusia pada umumnya.
Rasa-perasaan ini "diingkari oleh kalangan materialis, ditentang para teolog, diabaikan para pecinta, ditolak para ekstatis, diterima namun disalahpahami oleh teorisi dan pengikut Sufi itu sendiri".

Para Sufistik adalah mereka yang puas akan segala yang Allah lakukan agar Allah menjadi puas dengan apa yang mereka lakukan. Membuat Allah Puas!

Abu Said : “ Sufi adalah kejayaan di dalam kesengsaraan,
Kekayaan di dalam kemiskinan,
Keagungan di dalam pengabdian,
Dan rasa kenyang di dalam kelaparan,
Berpakaian di dalam ketelanjangan,
Kebebasan di dalam perbudakan,
Dan kehidupan di dalam kematian,
Serta kemanisan di dalam kegetiran….

: “Tasawuf itu politheisme karena merupakan perlindungan hati dari serangan ‘yang lain’ dan sesungguhnya ‘yang lain’ itu tidak ada!” – istilah yang dilontarkan oleh Shibli.

Kunci para mistikus adalah selalu “Memugar Hati”.
Bahasa yang mereka gunakan seringnya adalah bahasa ungkapan dan terkadang menggunakan symbol serta analogi dimana hanya mereka saja yang mengerti. Terkadang bicara dan tulisan mereka sangat mengagumkan, terkadang mengagetkan dan bahkan seringnya adalah tanpa rasa takut dan sungkan. Itulah karena mereka asyik bercakap-cakap dengan Illahi dan selalu untuk ‘Kenyataan Rahasia’ di diri mereka sendiri.
Ana’l Haq” - (Akulah Kenyataan) – kata “Si Pemintal kapas di lubuk hati”

Pandangan mistikus selalu tertuju dalam kewaspadaan kepada yang Maha Mutlak.
Tujuan mistikus lebih terfokus kepada Fana wa Baqa.
Istilah Goethe : Stirb und Werde

Memecahkan botol tinta dan merobek serta memusnahkan buku-buku, dianggap sebagai langkah awal dalam tasawuf oleh beberapa mistikus Islam.
Buku memang merupakan pandu utama, tetapi dianggap keterlaluan jika masih saja tergantung dan disibukkan oleh pandu buku jika saja tujuan sudah tercapai.
Kearifan sejati, Kearifan Tunggal dianggap tidak akan dapat tercapai melalui buku dan tulisan.
Yang mengagetkan adalah istilah yang dilontarkan mereka : “Bukankah Nuh as yang sembilan ratus tahun hidupnya hanya dengan mengenang Allah?!”.
Namun kenyataannya, para mistikus juga tidak sedikit yang membuat tulisan dan bahkan merangkum dalam kitab-kitab.

Sana’i : “Pertama-tama kutulis kitab-kitab dengan seksama, akhirnya kupatahkan penaku dalam kebingungan.”

Bunga Rampai Kisah & Keajaiban.

Seperti kisah yang ditulis oleh Ibrahim Raqqi :
Ada suatu waktu aku berangkat untuk mengunjungi Muslim Maghribi.
Ternyata yang kucari ada di sebuah masjid sedang mengajar, saat itulah aku tahu ia ternyata salah mengucapkan al-hamd (Segala Puji bagi Allah).
Aku kecewa ternyata sia-sia belaka aku mencarinya.
Keesokan hari ketika aku menuju tepian sungai Bapbrata untuk wudhu, betapa kaget diriku ternyata ada seekor singa besar sedang tidur-tiduran menghalangi jalanku. Langsung aku membalikkan langkahku, namun apa yang terjadi?
Diriku mengalami kaget yang kedua kalinya, di hadapanku ada seekor singa lain!
Mendengar jerit keputusasaanku, datanglah Muslim dan betapa kaget diriku yang ketiga kalinya ketika kulihat singa singa itu tunduk dihadapannya, Muslim menjewer dengan santainya ke telinga masing-masing singa itu sambil berkata, “ Wahai anjing Tuhan, aku sudah pernah mengatakan kalian, jangan mengganggu tamu-tamuku.”
Lantas ia menoleh padaku : “O Abu Ishaq, engkau menyibukkan diri memperbaiki lahirmu demi ciptaan-ciptaan Allah, untuk itu kau takut pada mereka. Ketahuilah, urusanku adalah menyibukkan perbaikan bathin dengan selalu memugar hatiku demi Khaliq, untuk itu kau saksikan ciptaan-ciptaan-NYA tunduk kepadaku.”

Abu Nasr as-Sarraj, di suatu musim dingin ketika ia sedang asik membicarakan beberapa persoalan mistik dengan rekan-rekannya, tiba-tiba ia terkena ‘Kondisi Allah’ dan menyurukkan wajahnya ke bara api serta bersujud di tengah-tengah nyala api tanpa terkena baker setitik pun.

Demikian pula apa yang terjadi pada Beyezid Bistami, ketika murid-muridnya mencoba membunuhnya, yang terjadi justru luka-luka tampak pada tubuh masing-masing muridnya. Seorang mistikus sempurna adalah cermin murni yang memantulkan kembali sifst-sifat orang-orang itu sendiri.

Sebuah cerita menarik lainnya adalah kisah mistikus dari Afrika Utara yang bersilaturahmi pada wali lainnya dengan mengendarai seekor singa jantan gagah. Kemudian oleh tuan rumah ia dipersilahkan menaruh singanya di kandang tempat sapi-sapi peliharaan tuan rumah.
Kemudian setelah itu sang tamu memasuki kediaman tuan rumah dan melihat tuan rumahnya sedang dikelilingi penari-penari yang cantik jelita elok rupawan, sehingga lantas terbersit penilaian si tamu meragukan kualitas ruhani si tuan rumah.
Namun apa yang terjadi keesokkan harinya, si tamu terkaget-kaget bukan main demi mendapatkan singanya habis dimangsa oleh sapi tuan rumah.

Tidak hanya itu saja bahkan binatang-binatang pun menjalankan peranannya dalam kisah-kisah para mistikus.
Terutama kucing, sering dihubungkan dengan keajaiban, bahkan ditengarai banyak biarawan memeliharanya sebagai pengawal, Ada yang beranggapan bahwa, sakina (kehadiran ilahi) tampak dalam wujud seekor kucing putih mulus dan tidaklah mengherankan bahwa mistikus pengemis yang aneh dari Hedawa (Maroko)memuja-muja kucing secara terang-terangan dan bahkan mualaf (orang-orang yang baru masuk Islam) diistilahkan dengan quetat (kucing kecil)
– ( bukankah Rasulullah saw juga sangat menyayangi binatang yang satu ini) -.

Tidak saja fauna, flora dan alam pun patuh kepada sahabat Allah.

Seperti yang dialami pada Abdul-Qadir Gilani; (sesuai dengan legenda) :
Nama bulan dalam perputaran satu tahun kalendar yang berjumlah 12, akan menghadirkan diri kepadanya sebagai wujud manusia.
Namun dengan perwujudan yang berbeda-beda, terkadang sebagai wanita cantik, pria muda gagah atau bahkan sosok buruk rupa sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada masa empat minggu yang akan berlaku pada bulan berikutnya.

Bagi mistikus muslim, hubungan erat dengan dunia fauna sudah tidak mengherankan, sebab setiap ciptaan atau makhluk memuja Tuhan dengan suaranya sendiri. Dan bagi siapa yang telah memurnikan jiwanya memahami puji-pujian mereka dan akan dapat ikut serta memuja bersama mereka.
Jika seorang mistikus dapat menaklukan “anjing jiwa bawah”, maka otomatis setiap ciptaan Tuhan menjadi patuh dan tunduk kepadanya.
Sebaliknya, mereka para wali akan menganggap sebagai suatu kemunduran perjalanan ruhani yang sangat dalam , apabila hewan-hewan itu menjadi tidak patuh dan menganggapnya sebagai ‘sesuatu yang lain’, maka saat itulah ia harus sesegera mungkin untuk bertobat! Jadi Hewan pun dapat dijadikan sebagai bahan renungan sekaligus evaluator bagi keruhanian mereka.

Dan masih banyak kisah keajaiban yang dilakukan oleh para mistikus, namun sampai seberapa jauhkah sahnya seorang mistikus untuk menunjukkan keajaiban-keajaiban?!

Pada suatu kesempatan seorang mursyid memarahi seseorang yang bertanya tentang macam keajaiban apakah yang dilakukan oleh seorang sufi, lantas dijawab : Apakah bukan keajaiban yang besar bila seorang jagal yang juga keturunan seorang jagal, tertarik untuk memasuki ‘suluk’ sebagai seorang salik lantas kemudian berbincang-bincang dengan Khidr as dan kemudian mendapat kunjungan orang banyak untuk mendapat rahmat. Yang mana bahwa sang mursyid menjawab berdasarkan perhatian penuh atas perjalanan kehidupan sufi itu.

Mursyid ulung menganggap keajaiban-keajaiban adalah godaan-godaan dalam Jalan menuju-NYA. Istilah yang paling sarkastis tentang pseudo-mistik masalah tersebut :
“keajaiban-keajaiban adalah menstruasinya kaum lelaki.” – yang menunjukan arti bahwa keajaiban adalah semata-mata hijab atau penghalang antara manusia dengan Khaliq.

Untuk itu para wali pun beristilah : “Lebih baik mengembalikan sebuah hati yang mati ke kehidupan yang kekal daripada mengembalikan seribu tubuh mati (bangkai) ke kehidupan”

Rumi : “Jangan bersedih, ia tidak akan hilang darimu;
Tidak, tetapi seluruh dunia akan hilang dalam dirinya.”

Keindahan Illahi disingkapkan dengan keindahan manusiawi :

Bayangan akan kosmos adalah qibla bagi para pertapa,
Bayangan Adam adalah qibla bagi para kekasih

Dimana pertentangan hukum di mata para kekasih yang mengembara dalam kenyataan merupakan debu di perkampungan Illahi.
Demikian dapat dinyatakan senyata kenyataan pada “Hari Perjanjian Purba” “(Surah Ar-Rahman ayat …) dengan kalimat :

“Jiwa terbang ke dunia kasih Illahi dengan sayap-sayap kasih manusiawi”

Bunga Rampai Analogi

Ruzbihan Baqli : “Perhatikanlah, karena hati adalah para kasih-NYA, disana bunga mawar Adamdi ranting Kasih adalah tajalli mawar-NYA. Bila jiwa Bulbul mabuk karena mawar ini, maka ia akan mendengar dengan telinga jiwa-NYA nyanyian burung Allast di tempat air mancur pra-kekekalan”

Bunga Mawar (:
Sebagai perlambang pengejawantahan keagungan Allah – pengukuhan penghayatan religius
Gemerlapan kehadiran Illahi dilukiskan tampak nyata seperti sekuntum bunga mawar merah segar yang mengagumkan. Karena bunga ini melukiskan pengungkapan keindahan dan keagungan Illahidengan begitu sempurna.

Burung Bulbul (Nightingale) :
Melambangkan kerinduan Jiwa untuk kembali pulang ke sarangnya
Burung Bulbul yang melambangkan Jiwa rindu tentu akan mengasihi Bunga Mawar selama-lamanya.
Dengan atau tanpa kesadaran, Bulbul berkonotasi metafisik dengan Jiwa dan Mawar dengan ke-Illahian.

"Aku mengetahui rahasia-rahasia cinta," kata burung bulbul. "Sepanjang malam aku mengungkapkan rasa cintaku. Aku mengajarkan sendiri rahasia-rahasia itu. Lagu cintaku adalah ratapan seruling mistik dan kecapi. Akulah yang memekarkan bunga Mawar dan menggetarkan hati para pecinta. Dengan tiada henti aku mengajarkan misteri-misteri baru, setiap saat muncul nada-nada kesedihan baru, laksana gelombang di lautan. Siapa pun mendengarkanku lenyaplah kecerdasannya karena terpesona dan hilanglah kesadarannya. Bila aku sudah kehilangan rasa cintaku pada sang Mawar, aku meratap tiada henti ... Bila sang Mawar kembali ke dunia di musim panas, hatiku begitu suka-ria. Rahasia-rahasia cintaku tidak diketahui mereka -- namun sang Mawar mengenal mereka. Yang aku pikirkan hanya sang Mawar, yang aku rindukan hanya Mawar merah delima."

[Menurut kajian ilmiah Sir David Attenborough, burung Bulbul mampu menyanyikan 300 lagu cinta yang berbeda pada kicauannya. Dinamakan lagu cinta karena burung ini mampu bernyanyi untuk pasangannya sepanjang malam.]
Simurgh :
Perlambang raja Jiwa para burung-burung
Permainan kata dalam kesustraan Parsi, mengutarakan secara cerdas pengalaman identitas Jiwa dengan hakikat Illahi :
"Untuk menggapai Simurgh adalah di luar kemampuanku -- cinta pada sang Mawar sudah cukup bagi burung bulbul. Karenaku Mawar menjadi mekar ... Mungkinkah burung bulbul hidup satu malam pun tanpa Sang Kekasih?"

Tokoh Syech San’an :
Sebagai perlambang penyerahan kasih sejati yang paling dikenal tanpa memandang tradisi-tradisi keagamaan, reputasi, nama ataupun kemasyhuran

(dan masih banyak lagi makna ragam analogi)


Bunga Rampai “Pernyataan dan Ungkapan”:

“Segala sesuatu merupakan yang dikasihi dan kekasih adalah selubung,
Hidup adalah yang dikasihi dan kekasih mati.” – Ruzbihan Baqli

“Dan Hasilnya tidaklah lebih dari tiga kata ini :
Aku terbakar dan terbakar dan terbakar “ - Rumi

“Andai tak ada ruang Jiwa, tak akan ada Jalan mistik, karena tiada jarak antara kau dan Dia yang dapat dilangkahi oleh kakimu”

“Tiada kedatangan kepada Allah kecuali oleh Allah, sebagaimana juga tiada batas antara pengabdi dan Allah kecuali nafs-nya. Seseorang tidak menentang nafs dengan nafs tetapi melawannya dengan nama Allah” – Ibn Abbad

“Oleh-NYA Sendiri Ia melihat Diri-NYA Sendiri….Tidak seorangpun melihat Dia kecuali Dia, tidak nabi yang diutus, tidak pula wali yang sempurna, tidak pula malaikat yang dekat mengetahui Dia. Utusan-NYa adalah Dia dan nabi-NYA adalah Ia dan Firman-NYA adlah Ia. Dia mengutus Diri-NYA Sendiri dengan Ia Sendiri kepada Dia sendiri” – Ibn ‘Arabi

“Ia adalah seperti kita, tawanan Keinginan” - Iqbal

- Ibarat serangga yang mengalami ‘ilm al-yaqin sewaktu melihat cahaya pelita, lalu mencapai ‘ayn al-yaqin bisa ia mendekat dan merasakan panas api, dan memperoleh haqq al-yaqin ketika akhirnya ia terbakar habis oleh api pelita- Husayn Ibn Mansur al-Hallaj

“Jika Allah mencintai hamba-NYA, Ia membuatnya menderita dan kalau Ia teramat mencintai-NYA, Ia menguasainya tanpa keluarga dan harta benda” – Fudayl Ibn ‘Iyad (Mantan perampok yang tersohor yang selama tiga puluh tahun hanya sekali saja tampak tersenyum saat anak laki-lakinya wafat)

“Ya Allah, di depan umum kupanggil Kau “Junjunganku’, tetapi di dalam kesunyian kupanggil Kau “Kekasihku” – Dhun-Nun

(dan masih banyak lagi makna ragam pernyataan dan ungkapan)

Bunga Rampai “Istilah” :

Mutasawwif, sufi sejati yang selalu dengan ketat berusaha mencapai kemurnian rohani

Mustawif, berpura-pura menjadi ahli mistik tetapi sebenarnya hanya merupaka pengganggu yang tak berguna

Hahut, Hakikat Illahi

Lahut, Kodrat Illahi

Jabarut, keberadaan rohani tanpa wujud (sabda Illahi dan daya rohani)
Mithal, alam eksistensialisasi

Malakut, alam malaikat

Nasut, penciptaan kemanusiaan

Himma, lapisan yang diraih oleh hasrat-hasrat besar dan doa-doa para waliullah

Fana, peleburan utuh

Baqa’, kelestarian, tinggal di dalam Tuhan

Jam, ketenangan , penyatuan sejati

Tafriqa, perpisahan setelah penyatuan

Uns, kedekatan

Washad, rasa takut karena kesepian

Sahw, kejernihan pikir

Shauq, kerinduan

Isyq, cinta yang teramat sangat kepada Illahi

Hayba, rasa khidmat yang teramat sangat

Lisan ul-hal, keadaan bicara sendiri (dengan Allah)

Iltibas, tersembunyinya keindahan pribadi dalam wujud-wujud yang tercipta sebagai pencitraan kenyataan Illahi.

Tajalli, pengejawantahan

Quth, kutub, pemimpin hirarki sufi
Gauth, pertolongan

Pir, syaikh

Al-bakka’u , orang-orang yang senantiasa menangis karena Allah

Talib ad-dunya – yang mencari keduniawian
Talib al-akhira – yang mencari alam barzah
Talib al-maula – yang mencari Tuhan

Qurb, dekat sekali, jarak terdekat

Dhauq, pengalaman ruhani

Sahw, ketenangan hati
Qabd, sikap menahan diri terhadap segala sesuatu

Hayaman, cinta kasih yang menggebu serta kekaguman yang luar biasa

Khamyaza, menganga ‘rindu tak terhingga’ (– kerinduan daratan yang ingin memeluk samudera)

Hama ust, segala sesuatu adalah Dia

Hudur wa ghaiba, hadir dan tak hadir

Shahid al-ghaib, saudara kembar

al-waiz, juru khotbah

Khirqa, jubah sufi (biasanya bertambal perca-perca seperti pengemis)
  • Khirqa-yi irada : didapat dari calon mursyid setelah di baiat
  • Khirqa-yi tabaruk : jubah yang didapat dari berbagai mursyid

Sabzpush, “yang memakai jubah hijau” taraf rohaniah yang tinggi
Tennure, baju panjang berwarna putih tanpa lengan
Destegul, jaket berlengan panjang
Sikke, topi atau kopiah (tanda khusus tarekat Mevlevi)

Arbain, chilla, : meditasi selama empat puluh hari
Tark at-tark, : melepaskan pelepasan

(dan masih banyak lagi makna ragam istilah)

Bunga Rampai “Makna Warna” :

Warna Putih : yang berhubungan dengan Islam
Warna Kuning : Imam
Warna Biru Tua : Ihsan
Warna Biru : Hayaman
Warna Hitam :. Jalal (Keagungan sifat Illahi yang tiada terperi)
Warna Merah : Akal
Perpaduan Biru, Kuning & Merah : Ilmu

(dan masih banyak lagi makna ragam warna)

Bunga Rampai “Nama Julukkan”

Banyak para mistikus sufi yang mencari nafkah dengan bekerja dan nama panggilan mereka banyak yang mencitrakan dari profesi mereka :
hallaj : penyortir kapas ; nassaj: penenun; banna: tukang batu; qawariri: pembuat gelas; haddad : tukang besi; saqati; penjaja.

(dan masih banyak lagi ragam nama panggilan tokoh mistikus)

Apa yang nyata tertulis ini adalah sebagai bunga rampai dan hanya bagian titik kecil permukaan dari kedalaman dimana mutiara Elite Ruhani bersemayam.

Tidak memiliki apa-apa tetapi memiliki semuanya.
Berjalanlah atas kehendak Pemilik Jalan.
Selamat Jalan para fakir pencinta

Sender :
yosisumantri@gmail.com

Tidak ada komentar: